Belajar dari Angka Nol (Bagian 49)
Tantangan Hari ke-2208
#TantanganGurusiana-6
***
Setelah acara seremonial penutupan OSN di gedung Sasana Budaya Ganesha (SaBuGa), terlihat wajah sayu anak-anak. Hasilnya belum sesuai harapan. Paling tidak satu hal yang harus mereka ketahui, walaupun belum berhasil meraih medali, secara umum peringkat yang mereka raih tidak mengecewakan. Seperti yang sering saya sampaikan saat kegiatan pembinaan. Yang lolos ke tingkat nasional adalah siswa terbaik dari penjuru negeri. Yang belum berhasil bukan berarti gagal dan tidak hebat, tapi pemenangnya adalah mereka yang memang terbaik dari semua peserta yang hebat. Jadi tidak perlu merasa minder dan kalah.
Saat mereka bertolak menuju penginapan, tidak terlihat lagi wajah murung tersebut. Sayapun harus kembali ke penginapan, di kawasan Batu. Tempat dimana semua guru diinapkan dalam rangka Simposium Nasional Guru Pembina Olimpiade Sains. Selama siswa mengikuti lomba, guru-guru pembinanya sedang digodok sedemikian rupa oleh Dosen yang juga terlibat sebagai juri. Sehingga semua potret kondisi siswa selama lomba, juga ditayangkan kepada semua guru pembina. Tujuannya sederhana, agar semua peserta bisa memahami keadaan siswa saat lomba. Ada banyak hal yang harus menjadi perhatian guru pembina.
Keesokan harinya, semua peserta baik siswa maupun guru, serentak meninggalkan hotel masing-masing. Saya dan anak-anak, jauh hari sudah memesan tempat penginapan baru. Tempat yang telah membesarkan saya sebagai guru IPA. Rumahnya para guru IPA seluruh negeri. Gedung P4TK IPA yang berdekatan dengan Gedung Sate, menjadi tempat berikutnya yang akan ditempati. Selain harga sangat terjangkau, untuk urusan makan juga sangat dekat, apalagi sembari menikmati malam dilapangan depan gedung sate yang asri.
Sesuai rencana, saya sudah mendiskusikan semua rute yang akan dikunjungi selama di kota Bandung. Hari pertama rute yang akan dikunjungi adalah bagian utara, mulai dari Tangkubanparahu, Floating Market, Observatorium Boscha dan lanjut sorenya di kota Bandung. Anak-anak dengan penuh semangat menikmati semua rute yang sudah dipilih. Tangkubanparahu yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita kakak seniornya, sekarang mereka nikmati langsung. Begitu juga dengan Pasar Terapung ala Bandung. Endingnya tentu saja melihat dari dekat Observatorium Boscha.
Hari kedua, rute yang dipilih adalah kawasan selatan. Kawah putih Ciwidei, lanjut ke Ranca Upas. Menikmati suasana alam sembari memberi makan Kijang, bahkan bisa berinteraksi langsung dengan Kijang tersebut. Setelah dirasa cukup, rute berikutnya adalah Situ Patenggang. Bentang alam dengan kebun Teh dan Danau alaminya. Keseruan ini mampu mengobati semua kejenuhan setelah lomba. Apalagi sang Driver bukan saja mengantar, tapi juga sekaligus menjadi bagian dari tim. Tidak ada jarak antara saya, anak-anak dan Pak Sopir. Saya biasanya memanggilnya Pak Acil.
Sebelum pulang ke penginapan, seperti tahun sebelumnya. Pak Acil mengajak anak-anak berburu oleh-oleh khas Bandung. Tentu saja ini disambut gembira anak-anak. Jika tidak diingatkan, bisa "muntah" semua isi dompetnya. Sehingga saya terpaksa turun tangan, agar mereka tidak kalap berbelanja. Karena bisik-bisik Pak Acil, bahwa besok saat pulang, anak-anak tidak langsung diantar ke bandara, tapi diajak mampir ke kawasan wisata Kota Lama dan Monas. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 010226 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
