Belajar dari Angka Nol (Bagian 53)
Tantangan Hari ke-2213
#TantanganGurusiana-7
***
Tiket penerbangan Lombok - Jambi sudah sah terpisah dari rombongan. Jauh sebelum jadwal penerbangan tim Olimpiade Provinsi Jambi menuju kota Mataram, saya sudah mendapatkan lampu hijau. Bahwa khusus tim Titian Teras (8 orang siswa dan 1 guru pendamping), pulang dengan jadwal yang berbeda. Rombongan Jambi pulang hari Minggu, setelah selesai acara Penutupan pada Sabtu malam Minggu. Sedangkan saya dan anak-anak, baru terbang dari Lombok hari Rabu.
Setelah chek out dari Hotel Lombok Raya, anak-anak langsung bersama saya menuju Wisma Nusantara. Tempat penginapan baru dengan harga sangat terjangkau dan dekat dari pasar, tentu saja juga sangat dekat dengan Rumah Makan Padang. Itulah serunya. Sejauh apapun perjalanannya, Rumah Makan Padang tetap menjadi pilihan yang utama. Walaupun juga tetap meluangkan waktu menikmati sajian khas Pulau Seribu Masjid ini.
Pak Uri, yang menjadi petugas mengantarkan saya dan anak-anak berkeliling menikmati bentang alam pulau Lombok. Beliau sangat hafal semua rute yang akan dikunjungi. Bahkan, Minggu pagi setelah dipenginapan, beliau menawarkan rute terbaik agar tidak bolak-balik dan dengan pemandangan yang luar biasa. Akhirnya, semua sepakat dengan apa yang ditawarkan oleh Pak Uri. Beliau bukan hanya bertugas mengantar, tapi juga merupakan bagian dari tim dan keluarga baru bagi saya dan anak-anak.
Tujuan yang pertama didatangi adalah Pantai Pasir Merica, tepatnya biasa di sebut Pantai Kutanya Lombok. Yang menjadi ciri khasnya adalah hamparan pasirnya yang berbeda dengan pantai lainnya di Indonesia. Pasirnya mirip dengan buah Merica. Tentu saja membuat anak-anak heboh. Karena dari beberapa tempat yang pernah mereka kunjunhi, baru di kawasan Pantai Kuta Lombok, pasirnya seperti rempah bumbu masak ibu-ibu di dapur.
Lokasi berikutnya yang dikunjungi adalah Pantai Mawon. Dengan pemandangan yang indah, membuat anak-anak sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk tidak bermain air. Apalagi setelah dari pantai Mawon, Pak Uri kembali mengajak anak-anak mendatangi pantai yang luar biasa indahnya. Ini sudah tidak ada lagi larangan untuk mereka. Berbagai atraksi mereka peragakan. Mulai dari salah seorang temannya yang menjadi korban ditanam dan seperti mayat hidup yang terkubur, lalu beramai-ramai mereka menggendong temannya untuk kembali dilempar ke laut. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 060226 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
