Belajar dari Angka Nol (Bagian 56)
Tantangan Hari ke-2216
#TantanganGurusiana-7
***
Gaya khas Kang Oeding, mulai dari "ngerjain" anak-anak di ruang tamu dalam ruang kerja beliau, lalu masih berlanjut saat di ruang pertemuan. Suasana itu menambah semakin hangatnya dialog saya, anak-anak dengan majlis guru dan perwakilan siswa. Ini menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak. Bagaimana sekolah menghargai perjuangan siswanya. Apapun hasilnya, tetap mendapat apresiasi yang luar biasa dari sekolah.
Setelah kegiatan pertemuan di SMAN Aekmel Lombok Timur, saya dan anak-anak pamit undur diri. Kegiatan selanjutnya, sesuai dengan arahan Pak Uri. Saya dan anak-anak diajak ke sebuah pantai, dimana sepanjang garis pantai, terbentang warna pink yang membuat anak-anak berdecak kagum. Pak Uri tidak ikut serta dalam kapal, beliau menunggu di pelabuhan kecip, tempat perahu, kapal motor para nelayan saat merapat dari kegiatan menangkap ikan di laut.
Saat bertemu dengan sang pemilik kapal, saya hanya berdua dengan Pak Uri yang menghadap. Anak-anak saya minta bersiap-siap dan menyantap makanan ringan yang sudah disiapkan oleh Kang Oeding di sekolahnya. Setelah dialog dan pembayaran selesai saya lakukan, barulah rombongan berangkat meninggalkan pantai. Anak-anak benar-benar menikmati sesi hari terakhir jalan-jalan di pulau Lombok.
Sang nakhoda kapal tidak hentinya menjelaskan apa yang dianggap kurang jelas oleh anak-anak. Sampai akhirnya di satu titik, saya dan anak-anak turun dari kapal. Merasakan keindahan pantai dengan pasir pink, tapi di sebuah pulau kecil di tengah laut. Llau anak-anak juga diberikan kesempatan snorkeling, tentu saja di lokasi yang sangat maan buat anak-anak. Selanjutnya kapal bergerak mendekat ke kawasan peternakan kerang mutiara. Ternyata bukan milik pribumi, tapi pengusaha asing.
Perjalanan masih berlanjut, sampai akhirnya kita turun di pulau yang saat siang, air laut surut, lalu dua pulau yang sebelumnya terpisah kembali disatukan oleh daratan yang tersembunyi dalam air laut yang pasang. Tentu saja, di daratan yang awalnya terendam air laut, meninggalkan berbagai makhluk laut yang terdampar. Selain bisa memegang langsung makhluk laut tersebut, yang selama ini hanya mereka lihat didalam buku paket pelajaran Biologi atau melalu media elektronik, hari itu semuanya bisa merasakannya secara langsung.
Setelah dirasa cukup dan matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, sang nakhoda meminta saya dan anak-anak untuk kembali naik ke kapal. Lalu sang kapten kapal mengarahkan kapal menuju pelabuhan kecil tempat tadi rombongan diberangkatkan. Tidak lupa, sebelum meninggalkan kapal, saya memastikan botol bekas yang berisi pasir pink sudah dibawa ke dalam mobil. Terima kasih Lombok, Pulau Seribu Masjid. Atas suguhan luar biasa selama tiga hari tanpa henti kami nikmati. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 090226 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
