Belajar dari Angka Nol (Bagian 64)
Tantangan Hari ke-2225
#TantanganGurusiana-7
***
Hari ketiga seharusnya menjadi momen berkesan bagi anak-anak. Karena ada agenda wisata edukasi yang sudah disiapkan oleh panitia. Namun apa daya, usai lomba hari kedua, dibeberapa titik terjadi hal yang diliar kendali panitia. Ada sekitar seratusan sizwa dilarikan ke rumah sakit. Bagi yang tidak terlalu parah, mereka hanya dirawat di hotel masing-masing.
Panitia lokal menyikapinya dengan membatalkan kegiatan wisata edukasi. Mengingat begitu banyaknya peserta yang harus dirawat. Kurang elok dilihat jika tetap memaksa kegiatan tersebut tetap berjalan, yang sehat menikmati kebahagiaan pada saat temannya sedang berduka. Namun panitia lokal tidak melarang jika secara pribadi mereka jalan-jalan di sekitar kota Palembang.
Sayapun melakukan hal yang sama. Setelah memastikan anak-anak tidak ada yang terkena kasus "keracunan" tersebut, maka saya memastikan tetap mengajak mereka jalan-jalan. Mulai dari melihat dari dekat Jembatan Ampera, lalu shalat sunat di Masjid Agung, kemudian melanjutkan perjalanan ke kawasan Jaka Baring, makan bersama di Rumah Makan Padang, lalu lanjut menuju Masjid Laksamana Cheng Ho. Di Masjid ini kita menunaikan shalat Zuhur berjamaah. Usai menempuh semua rute yang disepakati, saya dan anak-anak kembali ke penginapan.
Malamnya, anak-anak masih dikunjungi oleh kakak alumni yang sudah sepakat mengajak adik-adiknya makan bersama di sebuah angkringan yang lumayan terkenal di kota Palembang. Saat dalam perjalanan, saya melihat ada satu anak yang mampir di galeri ATM. Saya sudah membayangkan mereka melakukan iuran bersama guna mentraktir adik dan Ayahnya makan di angkringan.
Seperti biasa, saya juga punya strategi khusus saat makan sedang berlangsung di lokasi. Saya hanya pura-pura menambah pesanan minuman diluar yang disediakan pihak angkringan. Karena minuman menjadi satu paket sengan jenis makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya. Saya sebenarnya menyembunyikan pembayaran dari anak-anak. Saya sangat menghargai niat baik mereka. Ingin menanggung semua biaya makan adik dan Ayahnya. Yapi mereka lupa, bahwa dengan status mahasiswa, yang semua biaya hidup sehari-hari masih ditanggung oleh orang tuanya.
Membayar dengan cara diam-diam, tidak membuat mereka merasa direndahkan. Anak-anak juga tidak menyadari, bahwa saat saya datang ke meja pemesanan sekaligus membayar lunas semua pesanan mereka. Biarlah saat mereka membayar, dikagetkan oleh jawaban petugas. Bahwa semua pesanan sudah dibayarkan oleh Ayahnya. Secara otomatis pihak angkringan menjadi tahu, bahwa sebenarnya anak-anak sudah menyiapkan semua biaya untuk acara makan bersama tersebut. (Bersambung).
***
~~ Mendalo Mas, 180226 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
