Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 65)
Ilustrasi gambar: ChatGPT

Belajar dari Angka Nol (Bagian 65)

Tantangan Hari ke-2227

#TantanganGurusiana-7

***

Semua peserta dan pendamping serta tamu undangan sudah memenuhi ruang auditorium. Sembari menunggu pengumuman pemenang, saya masih menyempatkan berbincang dengan anak-anak dan kakak alumni OSN yang kebetulan bisa hadir. Siapapun yang meraih medali, bukanlah hal penting. Karena yang jauh lebih penting adalah tim Olimpiade sekolah mampu membawa pulang medali.

Master fo Ceremony sudah mulai membaca urutan mata acara penutupan. Bapak Menteri Pendidikan ikut hadir secara daring melalui layar lebar yang sudah disiapkan panitia. Beliau berhalangan hadir karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan di Jakarta. Sekaligus beliau meluncurkan hasil desain terbaik untuk logo OSN yang baru, yang kini digunakan (Rubik). Memberikan nuansa baru kepada peserta OSN. Logo baru dengan filosofi yang disebutkan memang keren. Sains itu selain rumit tapi menyenangkan. Begitulah kira-kira terkait dengan rubik.

Saat yang paling menegangkan akhirnya muncul dihadapan semua yang hadir. Suara MC memecah keramaian. Satu per satu nama dan cabang serta medali yang diraih. Akhirnya penantian itu datang juga. Nama Miftahul dipanggil ke atas panggung, meraih medali Perak pada cabang Geografi. Anak yang sehari-hari selalu bergabung dengan tim Astronomi dan Kebumian, juga Kimia. Mereka adalah tim yang solid. Saat nama rekannya dipanggil, yang lain dengan sumringah memberikan semangat.

Saya maju mengabadikan momen indah tersebut dengan kamera DSLR. Juga mengambil foto bersama Miftahul dengan teman-teman dan panitia dari Dinas Pendidikan. Saya sengaja mengambil posisi tidak ada dalam barisan tersebut. Karena yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana untuk kepulangan besok ke Jambi. Karena semua pendamping pulang lewat jalur darat alias dengan mobil Travel.

Akhirnya saya mengalah. Saya harus terbang dengan pesawat yang sama dengan anak-anak. Selain sudah membayangkan muka penuh "ketidaksukaan" karena siswa pulang dengan medali tanpa ada guru pendamping. Anak-anak sudah merasakan suasana tersebut setelah saya sampaikan, bahwa Ayahnya juga ikut terbang dengan pesawat yang sama. Lalu tiket? Tanya anak-anak. Saya hanya menjawabnya dengan senyuman terindah. Itu mah gampanglah. Pokoknya kita terbang dengan pesawat yang sama. Anak-anak menjadi tahu, bahwa tiket tersebut pasti tidak akan dibelikan oleh sekolah. (Bersambung)

***

~~ Mendalo Mas, 200226 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post