Belajar dari Angka Nol (Bagian 66)
Tantangan Hari ke-2228
#TantanganGurusiana-7
***
Saat berada di dalam pesawat, berbagai rasa berkecamuk. Ada bahagia yang tiada terkira, namun juga ada derai air mata. Membayangkan apa yang akan terjadi saat sampai dibandara Jambi. Soal tiket? Jangan ditanya, karena pasti akan ada jawaban istimewa. Itu urusan pribadi, salah sendiri naik pesawat. Karena guru pendamping sudah disiapkan dengan jalur darat, bukan pesawat.
Kegembiraan bersama anak di pesawat, ditambah lagi dengan canda khas anak-anak. Apalagi ternyata ada pelajar SMP yang juga merupakan peserta OSN di kota Palembang. Mereka menjadi punya semangat yang sama untuk melanjutkan pendidikan di sekolah sang kakak yang meraih medali. Khusus untuk kisah yang satu ini, saya lebih memilih diam tanpa ekspresi. Karena memang ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sembari pesawat terus bergerak, dengan bunyi baling-balingnya yang menambah suasana menjasi lebih seru. Saya menyampaikan kepada anak-anak, skenario yang akan dihadapi saat sampai dibandara. Agar mereka tidak kaget, jika saya memilih menghindar agar tidak terekam kamera. Andaikan bisa menghilang, tindakan itu akan saya lakukan. Anak-anak sudah memahaminya dengan baik, agar saat kondisi tersebut benar-benar terjadi, mereka tidak bersedih hati.
Dari kokpit, sang pilot menyampaikan bahwa pesawat segera mendarat, dengan kondisi cuaca sangat cerah. Namun tidak secerah hati salah satu penumpang yang ikut mendarat. Terbayang sudah yang tadi saat di pesawat kita diskusikan. Begitu pesawat mendarat dan penumpang turun, saya langsung menuju antrian pengambilan barang.
Dengan dibantu oleh Irsat dan Miftahul. Sedangkan Lulu dan Indah cukup dengan sabar diluar antrian. Setelah semua barang bawaan didapatkan, saya mengajak anak-anak keluar bandara. Ternyata di depan pintu keluar sudah ramai para petinggi sekolah dan orang tua Miftahul menunggu kedatangan rombongan.
Saya memilih mundur dari keramaian. Diam-diam saya bergerak menjauh. Agar tidak terlihat dari rekan-rekan satu sekolah. Sambil duduk di kursi panjang, saya hanya duduk menikmati "keriuhan" di pintu kedatangan. Apalagi saat peserta SMP sudah berkumpul. Terdengar suasana ramai dengan keributan yang mereka hadirkan dengan jenaka.
Namun sayang, karena asyik melihat candaan tersebut, ternyata ada yang diam-diam bergerak mendekati saya. Pihak keluarga Miftahul meminta saya untuk ikut berfoto ria. Tidak enak jika saya harus menjauh. Akhirnya saya terpaksa datang dan bersama anak-anak diabadikan melalui bidikan kamera. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 210226 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
