Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Belajar dari Angka Nol (Bagian 83)
Ilustrasi gambar: ChatGPT

Belajar dari Angka Nol (Bagian 83)

antangan Hari ke-2256

#TantanganGurusiana-7

*

Mulai dari Nol ya? Seperti itulah iklan layanan masyarakat dari sebuah stasiun pengisian bahan bakar minyak di sebuah negeri yang jauh dari negara eropa. Iklan ini menjadi pemicu ide "nakal" bagi para pendengarnya. Bukan bermaksud jail, tapi berangkat dari iklan tersebut menampilkan beragam ekspresi.

Saat sekarang, kata-kata tersebut akan bermunculan. Karena bersamaan dengan hadirnya bulan Syawal atau hari lebaran. Maka akan nyaring ditelinga kita "Mulai dari Nol lagi ya?." Kalimat tersebut membenarkan bahwa saat lebaran semua kesalahan yang selama ini diperbuat, akan mendapatkan maaf dari para korban. Padahal jika kita telisik dengan cermat, bahwa mulai dari nol lagi ya, itu menandakan bahwa proses jahil/jail dan suka berbuat kurang terpuji kepada teman, setelah lebaran usai akan kembali terulang.

Sejatinya, angka nol menandakan bahwa tidak ada lagi kesalahan yang boleh dilakukan. Karena selama angka nol berdiri sendiri, maka tidak ada makna sama sekali, kecuali ia menunjukkan satu titik tertentu. Seperti titik Nol kilometer Indonesia, titik Nol kilometer suatai daerah. Maka disanalah angka nol memberikan makna tersendiri. Akan tetapi, saat ia lepas dari keterkaitan dengan objek apapun, maka angka nol tidak memberikan efek apapun selain dari ketulusan.

Angka nol tidak pernah menggugat saat nilainya tidak berharga. Akan tetapi ia akan menggugat manakala nominalnya menjadi obejk perebutan harta kekayaan, apalagi didapatkan dengan cara yang tidak benar. Bayangkan saja, orang atau pihak tertentu memanipulasi angka laporan keuangan, atau pihak yang melakukan korupsi uang rakyat, maka kemarahan angka nol juga sangat mengerikan. Bukankah rakyat kecil (yang disimbolkan kelompok yang tidak punya harga/nilai, padahal ia merupakan pemilik sah sebuah negeri) yang menanggung semua akibat buruk pejabat korup tersebut.

Jadi bukan mulai dari nol lagi ya, tapi setelah tahu melakukan kesalahan kecil, berhentilah dan mulailah dari hal kecil untuk melakukan kebaikan. Sekecil apapun sebuah kebaikan, ia akan menghapus semua kesalahan yang pernah dilakukan. Kecuali kesalahan atau dosa besar. Ia harus dengan tobat dan hukuman yang siap menanti. Tapi memang benar kata Pak Prof. Salim Said. Pejabat dan penjahat disini, Tuhan saja mereka tidak takut apalagi sanksi penjara. Na'udzubillah mindzaalik.

***

~~ Danau Kerinci, 200326 ~~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post