Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ngumpul Bareng Ramadhan
Ilustrasi gambar: ChatGPT

Ngumpul Bareng Ramadhan

Tantangan Hari ke-2249

#TantanganGurusiana-7

***

Kebetulan saya yang tertua dari tiga orang kakak beradik yang merantau di Muaro Jambi, maka momentum Ramadhan setiap tahunnya, selalu dimanfaatkan untuk berkumpul dan berbagi kisah. Itu semua bukan karena sebelumnya tidak pernah ngumpul bareng. Hampir disetiap kesempatan, kita selalu ada dan berkumpul bersama di salah satu rumah kakak adik tersebut.

Karena suasananya berbeda dengan hari-hari biasa, maka momen Ramadhan menjadi terasa lebih bermakna. Berkumpul dalam kegiatan Buka Puasa Bersama, dilanjutkan dengan Shalat berjamaah, sampai menuntaskannya dengan shalat tarawih. Setelahnya, baru melanjutkan dengan cerita seru sambil menikmati sajian makanan yang belum dituntaskan saat berbuka.

Kebiasaan atau tradisi baik yang sejak kecil sudah diajarkan oleh kedua orang tua, bahwa kakak adik harus selalu akur, jangan ada perselisihan. Agar bisa menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Namun konteks akur itu bukan tidak pernah berselisih paham dan pendapat, karena semasa kedua orang tua masih hiduppun, kita sudah terbiasa diskusi hangat bahkan cenderung tegang seperti Mahasiswa yang sedang diuji oleh Dosennya. Beradu argumen dan pendapat adalah biasa di tengah keluarga. Begitulah cara Ayah mendidik dan mengasah kemampuan anak-anaknya dalam berdebat tentang hal yang baik serta dengan dalil pendukungnya.

Saat ngumpul bersama ini juga demikian. Kita dengan latar pekerjaan yang berbeda, walaupun saya dan adik perempuan sama-sama berprofesi sebagai guru, tapi dengan instansi dan kementerian yang berbeda. Sehingga banyak hal yang diceritakan. Lalu ditarik satu kesimpulan yang sama. Karena tradisi diskusi ini sudah dilatih sejak kecil, mungkin bagi sebagian orang yang belum kenal, akan terdengar seperti ada keributan kecil antara kakak dan adik. Padahal yang sedang terjadi adalah saling adu argumen.

Momen ngumpul bareng sekaligus Buka Puasa Bersama, menjadi semakin meriah. Karena makanan yang disajikan adalah masakan khas keluarga. Semasa Emak masih hidup, gulai batang Keladi China dengan lauknya ayam potong, terasa lebih nikmat dengan didampingi buka puasanya sudah tersaji Kolak Mie. Pasti ada yang merasa aneh. Kok Mie bisa dibikin menjadi kolak. Aduh, masih pagi sudah bicara kolak untuk berbuka. Tapi begitulah suasana saya dan adik-adik. Hangat dan tetap saling ngangenin.

***

~~ Mendalo Mas, 130326 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post