Ketika Diam Bukan Lagi Emas (Bagian 3)
Tantangan Hari ke-2290
#TantanganGurusiana-7
***
Mencari titik terang dari berbagai peristiwa yang menimpa profesi yang di negara tetangga sangat di hormati, bukan saja oleh murid (student) maupun orang tuanya. Karena keberhasilan anaknya juga sangat besar pengaruh dari bimbingan sang guru. Apalagi jika sebagai pembandingnya adalah negara maju, sebut saja Jepang.
Sedikit berbagi kisah, beberapa orang teman yang kebetulan anaknya sekolah di Jepang. Juga ada yang keponakannya ikut orang tuanya kerja di Jepang. Sehingga harus ikut merasakan bagaimana sekolah di Jepang. Ada kesedihan yang tanpa sadar menyerang ruang hati guru di negeri plus enam dua. Dulu guru begitu mempunyai tempat di semua lini masyatakat. Jangan coba-coba rendahkan guru. Karena beratnya tugas sang guru melatih, mendidik dan membina sang anak.
Jepang begitu luar biasa menempatkan posisi guru. Pendidikan karakter menjadi dasar semua gerakan pendidikan di sana. Anak diajarkan bagaimana budaya antri, bagaimana sikap menghormati dan mengasihi sesama. Di sini? Budaya antri saja maih jauh dari kata baik. Menghormati guru? Semakin menyedihkan. Akhirnya guru banyak yang mengambil posisi aman.
Hindari kontak yang agak sedikit "mengerikan" jika sudah terkait penegakan disiplin dan karakter baik. Karena urusannya bisa membahayakan dirinya sendiri. Jika sudah berurusan dengan aparat penegak hukum, silahkan saja berjuang senditi. Berharap instansi yang menaunginya akan membela? Atau organisasi profesinya yang berdiri paling depan? Jangan harap.
Kadang mereka muncul karena sudah diviralkan oleh jamaah alias netizen. Begitu kasak-kusuk itu sudah tidak bisa lagi dihentikan di jagad maya, barulah semua pihak tampil bak superhero. Sementara sang guru sudah babak belur, jauh sebelum berita itu heboh. Guru dihadapkan pada banyak pilihan sulit. Jadi jangan salahkan guru, jika memilih cukup masuk kelas mengajar. Terkait nanti anaknya paham (sebut saja pintar) itu berkah. Kalau tidak paham, ya sudah. Jika sikap anak tidak baik, cukup nasehati sekadarnya saja. Jangan terlalu keras dan tegas. Karena endingnya bisa sangat menyedihkan.
Mari sejenak kita masing-masing memikirkan, akan seperti apa pendidikan di negeri ini. Belum lagi terkait kebijakan tentang pendidikan yang semakin hari membuat guru semakin susah. Bukak tidak mau tunduk, tapi sudah terlalu lelah dengan berbagai kebijakan yang tidak bijak. Jika semuanya sudah mengambil posisi cukup hanya datang dan mengajar, sisanya silahkan menjadi urusan masing-masing. Maka lihatlah hasilnya sekarang. Anak bermasalah di sekolah tapi selalu mendapatkan perlawanan dari orang tuanya, bahwa anaknya baik dan berbagai macam argumen yang membenarkan perilaku yang salah tersebut.
Entahlah, jika ini terus berlangsung, maka tidak tahu lagi akan seperti apa kedepannya dunia pendidikan di negeri plus enam dua. Negara tetangga setiap hari menampakkan perubahan dan kemajuan yang luar biasa, sementara yang disebelahnya terus mengalami kemerosotan dan bahkan terjun bebas dari ketinggian dengan tanpa sedikitpun pihak merasa perlu hadir memperjuangkannya. Belum lagi jika sudaj terkait kesejahteraannya. Huh, bisa semakin terpojok posisi sang guru.
***
~~ Mendalo Mas, 230426 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
