Ketika Pare tak lagi Pahit
Tantangan Hari ke-2281
#TantanganGurusiana-7
***
Jika mendengar banyak jenis tanaman sayuran yang pahit, maka akan terbayang langsung Pare dan daun pepaya. Karena dua jenis ini sepertinya merupakan pasangan yang serasi pahitnya. Namun bedanya, ada yang suka pahitnya Pare, tapi tidak menyukai pahitnya daun pepaya. Karena dua-duanya memiliki karakter khusus.
Namun tulisan ini hadir bukan membahas tentang intensitas dan daya tarik "kepahitan" dua jenis sayuran ini, tapi lebih pada pilosofi pahitnya kehidupan masyarakat bawah saat ini. Pernah terdengar bisik-bisik tetangga di sosial media, keluhan mereka tentang semakin beratnya tantangan hidup yang sekarang harus mereka hadapi.
Bukan pula tidak pandai bersyukur, tapi memang karena kondisi sekarang yang menuntut mereka harus ekstra hati-hati menggunakan sumber daya keuangan. Jika dulu, dengan selembar uang seratus ribu rupiah saja ditangan, sudah beraneka ragam keperluan rumah tangga (sembako, red) bisa mereka bawa pulang dari warung sembako tetangga sebelah.
Sekarang? Dengan jumlah uang yang sama, setengahnya saja sudah sangat susah didapatkan. Itupun volumenya sudah berubah. Satu ikat sayur sudah tidak sama dengan ikatan sebelum-sebelumnya, belum lagi jika dengan jumlah uang yang sama, ada keinginan membeli ikan segar. Itu semua hanya angan-angan belaka. Yang didapatkan malah ikan yang sudah mati bertahun-tahun.
Saat membeli sayuran pare, sempat-sempatnya mereka berseloroh (canda khas ala emak-emak yang sudah lelah). Ternyata sekarang pare sudah tidak pahit lagi. Karena sudah dikalahkan oleh pahitnya perjuangan hidup. Jika selama ini kita menggap pare pahit, belum seberapa pahit dibandingkan dengan kerasnya perjuangan untuk sekadar hidup layak.
Padahal, negeri ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Tapi siapa yang menikmatinya? Ah, sudahlah. Nanti diteriakin tidak pandai bersyukur, tidak tahu diri dan parahnya dibilangin antek-antek asing. Bisa gawat.
***
~~ Mendalo Mas, 140426 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
