Pertemuan yang Istimewa
Tantangan Hari ke-2271
#TantanganGurusiana-7
***
Jumat, 030326 tepat pukul 20.00 merupakan pertemuan spesial, sangat bisa sangat spesial. Sebagai generasi muda yang dibesarkan dilingkungan agamis, lalu saat melanjutkan pendidikan, tinggal di Asrama Mahasiswa Islamic Center AlQuds Kota Padang. Tidak semua Mahasiswa bisa dan mau tinggal di asrama. Karena ada aturan ketat yang mengaturnya. Sementara banyak Mahasiswa memilih "Kebebasan" sehingga tidak mau terikat dengan aturan asrama.
Nah, setelah sekian lama meninggal asrama, melaksanakan tugas negara, masih tetap terhubung dengan komunitas alumni Santri Islamic Center AlQuds. Melalui grup ini pula tadi malam, saya mendapatkan informasi bahwa ada pertemua secara daring bersama tokoh nasional, yang pada umumnya selalin memang pengurus organisasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat dan daerah, Organisasi kepemudaan yang juga bernaung dibawah DDII, tidak lupa pula kegiatan ini berkumpul tokoh-tokoh nasional.
Selama masa kuliah dulu, Allah takdirkan saya bertemu banyak tokoh pejuang ummat. Ada Alllahyarham Ayahanda Anwar Haryono, Ayahanda Husein Umar, KH. Rusyad Nurdin, Ustadz Syuhada Bahri, Buya Datuk Tan Kabasaran, anak bungsu Allahyarham Ayahanda M. Natsir. Seorang tokoh nasional yang karena Mosi Integralnya, mampu menyelamatkan Indonesia dari bentuk federasi kembali ke NKRI. Melalui anak bungsu beliau, yang biasa kami panggil Ibuk Abi (Ibunda Aisyahtul natsir, seorang guru SMAN 1 Kota Padang), berbagai kisah perjuangan Ayahan M. Natsir saya dengar langsung dari beliau.
Menurut informasi yang disampaikan Ketua Umum DDII, Bapak Dr. Adian Husaini. Ada lebih kuran 70an buku karya beliau Ayahanda M. Natsir yang menjadi pedoman garis perjuangan Ummat. Sebut saja Fiqhud Dakwah (Kebetulan buku ini saya punya, milik kakak yang kuliah di Fakultas Dakwan IAIN tahun 1990an).
Melalui layar zoom, ternyata salah satu tokoh idola, KH. Agussalim. cucu beliau turut hadir menyampaikan bagaimana sosok hebat (M. Natsir) yang dulu pada zaman perjuangan, juga sempat dibimbing oleh kakek beliau. Bisa bertemu dengan cucu tokoh sejarah adalah sesuatu yang sangat spesial bagi saya. Beliau menceritakan, bagaimana Ayahanda (biasa disebut Abah) M. Natsir, dalam kondisi menjadi tahanan rumah era Orde Lama sampai Orde Baru, tapi tetap membantu Pemerintah Indonesia dalam mengatasi berbagai krisis. Tidak ada dendam, seperti era sekarang. Menyerang kelompok yang berbeda, mrangkul teman sendiri, sekalipun salah.
Pokoknya pertemuan tadi malam, sungguh luar biasa. Bisa berjumpa kembali dengan Buya Mas'oed Abidin, juga tokoh sejarawan Minang di Jakarta, dan banyak lagi tokoh lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih kepada DDII, yang dulu semasa kuliah juga ikut merasakan garis perjuangannya, keliling Sumatera Barat berdakwah dan memberikan bantuan ummat, mengatasi badai krisis, sehingga banyak rakyat kecil yang mengalami bencana Busung Lapar waktu itu. Terima kasih telah mengingatkan kembali jalan perjuangan dulu hingga kini. Tetaplah berdiri di jalan kebenaran, walaupun ditinggal sendiri.
***
~~ Mendalo Mas, 040426 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
