Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
UH Unik ala Anak SMA
Ilustrasi gambar: ChatGPT

UH Unik ala Anak SMA

Tantangan Hari ke-2283

#TantanganGurusiana-7

***

Kalau ditanya oleh banyak orang terkait dengan perubahan kurikulum, entah namanya apa, sebut saja misalnya kurikulum 99, kemudian berubah menjadi Kurikulum 99 yang disempurnakan, lalu pada awal tahun 2004 kembali terjadi perubahan menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

Masih segar ingatan para guru di negeri +62 dengan KBK, lalu muncul lagi kurikulum baru dengan nama yang asyik dan luar biasa. Namanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disingkat KTSP, yang akhirnya sempat diplesetkan oleh komunitas plesetan Indonesia, nama kurikulumnya sih sama, tapi kepanjangannya saja yang berbeda.

Pada edisi yang sebenarnya, KTSP itu singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, lalu diplesetkan menjadi Kalau Tidak Selingkuh ya Poligami. Asli mengerikan bagi para pegiat pendidikan. Ini bukan arti yang sebenarnya, tapi sebuah sindiran bahwa apapun merk kurikulumnya, tetap saja guru dibuat pusing menerapkannya. Bukan tidak mau berubah. Tapi endingnya tidak jauh berbeda, yaitu proyek nasional yang dengan sengaja mengorbankan banyak pihak.

Saya pribadi, kebetulan mengajar dan bertemu dengan semua jenis kurikulum yang disebutkan di atas. kurikulum apapun yang digunakan, tuntutannya lebih kurang sama. Bagaimana anak meraih nilai terbaik dan tamat dengan capaian nilai yang baik pula. Sehingga ada bagian yang sangat penting menjadi sedikit banyak terabaikan. Apakah itu? Mendidik.

Perhatikan saja sekarang, bagaimana akhlak anak-anak kepada gurunya. Bagaimana pula dukungan orang tua kepada guru yang menitikberatkan pentingnya pendidikan akhlak mulia dan karakter baik pada siswa. Rata-rata guru tersebut akan menjadi musuh bersama. Baik oleh siswa maupun orang tuanya.

Lalu apa hubungannya dengan judul Ulangan Harian (UH) yang unik di atas. Tentu saja ada. Biasanya ulangan harian dilaksanakan dengan pangawasan sangat ketat, tidak boleh membuka buku dan syarat-syarat lainnya dari sang guru. Tapi tidak dengan UH Fisika. Mereka diberi kebebasan menyelesaikan soal dengan membuka berbagai buku. Tujuannya sederhana. Supaya mereka selain menyelesaikan soal, juga belajar memahami dan mendapatkan sumber belajar baru. Mereka membawa beraneka ragam buku Fisika, agar bisa digunakan dalam menyelesaikan soal yang diujikan.

Semoga dengan cara unik ini, anak menjadi terlatih membaca dan mencari literatur yang baik dan tepat. Sehingga semua kesulitan yang mereka hadapi dalam menyelesaikan soal, bisa dituntaskan dengan baik. Tentang hasil? Semuanya akan menjadi lebih baik sesuai waktunya. Andaikan tidak hari ini, tapi saat mereka melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi, mereka akan menjadi terbiasa mencari dan menggunakan literatur dengan baik. Bukan sedikit-sedikit menggunakan AI. Kok sedikit? Sedikit saja daya rusaknya sudah terasa mengerikan. Apalagi menggunakannya dengan sangat banyak. Kemampuan literasi anak akan terganggu.

***

~~ Mendalo Mas, 160426 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post