(Bukan) Panas Biasa
Tantangan Hari ke-2317
#TantanganGurusiana-7
***
Beberapa hari ini, setelah melewati hujan deras seperti air ditumpahkan dari air terjun besar yang muncul di atas langit. Terbayang seperti apa suasananya di daerah kabupaten yang jarang banjir, tiba-tiba mendapat khabar banjir bandang. Ternyata bukan hanya karena hujan, tapi ada faktor lain.
Saat hujan turun, daerah yang hutannya sudah berubah menjadi perkebunan sawit, maka kemampuan akar tanaman tersebut menyimpan air sangat rendah. Jika pada masa lalu, akar pohon yang mampu melilit batu cadas dan menahan air turun dari puncak dan lereng bukit, kini dari jauh terlihat kering dan tandus. Otomatis saat hujan turun dengan intensitas tinggi, masyarakat dibawahnya sudah sangat cemas.
Perubahan status lahan, yang dulunya berupa perkebunan karet dan tanaman lainnya, yang kemampuan akarnya menahan dan menyimpan air sangat baik, sekarang sudah berubah. Apalagi lahan yang sudah disulap menjadi perkebunan sawit tersebut lumayan luas. (Lah bukannya sawit juga pohon, karena ada daunnya). Mungkin bisa dibandingkan dengan keladi/talas, yang daunnya mampu menampung air hujan dan bergerak tanpa pendirian, sehingga muncullah peribahasa seperti air di daun talas.
Perubahan lahan pertanian tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang, maka bersiaplah menghadapi dan menjalani mimpi buruk setiap saat. Setelah merasakan banjir bandang dan tanah longsor, lalu berganti dengan panas ekstrim. Di beberapa tempat, yang biasanya pada jam yang sama (sekitar jam 12.00 sampai jam 14.00), suhu berkisar pada angka 32°C sampai 34°C, perlahan berubah menjadi cuaca sangat panas. Bisa dibayangkan saat waktu yang sama, detektor suhu menunjukkan angka 39°C, bahkan pernah sejenak menunjukkan angka 40°C sampai 41°C.
Ini bukan tentang aksi protes masyarakat terhadap kebijakan yang salah. Tapi tentang bagaimana menyelamatkan lingkungan yang salah urus. Demi atas nama proyek yang menguntungkan segelintir orang, lalu abai terhadap keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya, terutama manusia dengan segala keterbatasannya. Sudah bukan lagi panas biasa yang dirasakan. Pendingin kendaraan dinyalakan saja, sudah tidak ada lagi rasa dinginnya. Apalagi bagi pejalan kaki.
Mari sudah waktunya kita kembali berbuat dan melakukan karya nyata, menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang makin parah. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka hanya meninggalkan kepedihan bagi generasi masa depan, anak cucu hanya melihat kehancuran alam, dengan kandungan didalamnya sudah habis dikuras oleh sebagian kecil orang.
***
~~ Mendalo Mas, 200526 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
