Burhani Abu Bakar Arsyad

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
(Bukan) Terlambat
Ilustrasi gambar: edited by ChatGPT

(Bukan) Terlambat

Tantangan Hati ke-2302

#TantanganGurusiana-7

***

Karena 010526 hari libur, maka dari tanggal 300426 siswa dipulangkan sejenak ke rumahnya masing-masing. Sehingga terhitung dari tanggal 300426 sampai tangga 020526 siswa berada di rumah. Tujuannya sederhana, untuk berbagi peran antara sekolah dan orang tua dalam mengajarkan karakter akhlak mulia dan hal lainnya kepada anaknya masing-masing.

Tanggal 030526 siswa kembali masuk asrama. Dengan demikian, upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional yang seharusnya dilaksanakan bertepatan dengan tanggal 0205 tidak bisa diselenggarakan, lalu diganti dengan hari senin 040526. Walaupun ada sekolah yang tidak libur dan bukan sekolah Full Day, tapi tetap saja tidak bisa melaksanakan upacara bendera. Karena sejak pagi dinihari (02.00) hampir seluruh titik di kawasan Provinsi Jambi hujan deras. Mulai reda sudah menginjak hampir jam 11.00 siang. Secara otomatis sudah tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya upcara bendera.

Senin 040526 menjadi saksi pelaksanaan upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sekaligus setelah pelaksanaan upacara, dilaksanakannya Rapat Kehormatan Dewan Guru, dalam rangka menetapkan kelulusan siswa kelas 12 Tahun Pelajaran 2025/2026. Walaupun terasa hambar. Bagaimana tidak, mereka sudah mengikuti TKA pada semester ganjil, lalu ujian semester genap dan ujian akhir tahun (dulu UAS, sekarang entah apalagi namanya, namun tetap saja nuansanya tidak jauh berbeda alias sekadarnya saja).

Jadi, upacara peringatan ini bukan terlambat, hanya waktu yang tepat dengan momentum acara terkendala cuaca. Selain itu isi pidato yang dibacakan, pesan dari pejabat tinggi di kementerian ini terasa tidak menyentuh akan permasalahan di akar rumput. Soal pembelajaran digital, saya menjadi teringat masa-masa tahun 2006. Saat ikut terlibat sebagai tim Pengembang Bahan Ajar dan Bahan Ujian Berbasis ICT. Artinya soal digitalisasi pembelajaran, sudah 20 tahun yang lalu digagas oleh tim di kementerian. Tinggal bagaimana ruhnya tidak lepas dari jasadnya.

Kalau berbicara tentang kesejahteraan, untuk yang satu ini benar-benar sangat senitif dan penuh drama. Jika terus menerus dibahas, nanti dianggap guru tidak ikhlas. Namun apabila tidak diangkat kisah tragis sang guru, sampai kapan kesejahteraan sang guru akan meningkat. Satu kata yang pasti. Negara manapun di duni ini yang maju, selalu mengedepankan peran guru dan kesejahteraannya yang menjadi prioritas utama. Lihatlah negara tetangga. Negeri ini belum apa-apa dalam mengurus guru, yang ada menguras hati dan rasa sang guru.

Bukan terlambat untuk mengatakan perubahan dengan tanpa janji penuh kebohongan. Karena setiap kata yang terucap, akan menjadi hutang dan dimintakan pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Ups. Lupa. Mereka para petinggi di negeri ini mana percaya dengan Tuhan dan hari pembalasan. Makanya mereka suka-suka dan senaknya saja berbicara dan mengumbar janji tanpa realisasi bukti.

***

~~ Mendalo Mas, 050526 ~~

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post