Masih tentang Guru 'Kurang Kerjaan'
Tantangan Hari ke-2315
#TantanganGurusiana-7
***
Sosok yang kisahnya selalu menarik diulik, sampai mata sang pengulik kepedihan dan bisa meneteskan air mata. Namun energi perlawanan yang dilakukan oleh kelompok "pembenci" seolah tiada kata habis. Terus menerus dan menyambung menjadi satu, itulah mereka yang tidak ikhlas melihat profesi ini.
Bukan tidak ikhlas dalam menunaikan tugas, tapi jika terus menerus dihantam badai, energinya terkuras untuk menahan gempuran tersebut. Lalu kapan mereka bisa memaksimalkan diri dalam mendidik anak bangsa. Atau jangan-jangan memang ada skenario agar generasi penerus tersebut boroh dan tertinggal. Baik karakternya maupun kecerdasannya.
Dengan menjamurnya AI, apalagi terus menerus digaungkan, seolah peran profesi yang satu ini bisa spenuhnya diganti oleh AI. Sadar atau tidak, justru yang semakin kental dirasakan adalah pembodohan secara terbuka terhadap generasi muda. Bukan tidak boleh menggunakannya, tapi melatih untuk selektif terkait kapan boleh dan tidak boleh digunakan. Karena sesuatu yang instan akan memengaruhi kemampuan kognitif seorang anak dalam mengembangkan diri.
Sosok yang selalu disalahkan jika kondisi tersebut makin memburuk adalah guru. AI tidak sepenuhnya bisa menggantikan peran guru. Keteladanan tidak bisa digantikan oleh siapapun. Orang tua si anak sekalipun, jika sibuk menyalahkan dan hanya memberi contoh tanpa bisa menjadi contoh, anaknyapun tidak akan jauh berbeda dengan apa yang diperlihatkan oleh orang tuanya. Karena anak melihat apa yang dilakukan, bukan apa yang disampaikan.
Mengamati fenomena yang kini terus berkembang, profesi guru selalu menjadi yang tersudutkan. Bukan karena kemampuannya, tapi karena perbedaan pandangan pihak diluar guru terhadap profesinya. Bolehlah kita bandingkan generasi terdahulu dalam proses pendidikan. Sekeras apapun tindakan yang diberikan, tidak menyebabkan sang guru menjadi tersangka dan dilaporkan ke pihak yang berwajib.
Orang tua dengan jabatan apapun, hampir bisa dipastikan tidak akan menggunakan jabatannya untuk memberikan perlawanan terhadap didikan yang diberikan oleh guru. Sekarang? Guri dihadapkan pada dua sisi yang berseberangan. Maju menegakkan aturan, bukan hanya datang mengajar tapi juga melakukan proses pendidikan, maka dirinya harus siap menghadapi perlawanan yang dilakukan orang tua siswa.
Mendiamkan semua perilaku tidak baik siswa, demi menyelamatkan diri dari tindakan yang kurang terpuji dari siswa dan orang tua siswa, ada pergolakan bathin yang tidak bisa diungkapkan. Walaupun akhirnya lebih banyak yang memilih jalan aman. Toh saat terjadi hal yang tidak diinginkan, belum tentu ada yang berani berdiri didepan memberikan dukungan. Sungguh menjadi guri kurang kerjaan itu makin berat. Sanksi yang dihadapi semakin berat.
***
~~ Mendalo Mas, 180526 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
