Juara 'Lancung'
Tantangan Hari ke-2347
#TantanganGurusiana-7
***
Dalam kehidupan kita sehari-hari, sangat bisa jadi kita akan bertemu dengan berbagai hal yang membuat kita tersenyum, padahal kejadian tersebut kurang pantas dilakukan, tentu saja dengan dasar norma dan nilai yang kita pahami dan kita yakini kebenarannya.
Misalnya, kepada kita dihadapkan kondisi siswa yang sedang menyontek, dengan tanpa malu sedikitpun ia tetap melakukan pekerjaan yang menurut standar norma yang paling rendah sekalipun, perbuatan tersebut tetap salah. Lalu pada saat pengumuman juara kelas, ternyata yang bersangkutan terpilih sebagai juara kelas dan naik ke atas panggung tanpa rasa malu dan canggung.
Inilah bentuk sederhana sebuah pelanggaran yang kedepan akan melahirkan bentuk pelanggaran yang jauh lebih besar.
Proses pendidikan, sebenarnya dalam bentuk apapun akan memberi imbas pada masa depan. Sebagai pendidik, sangat bisa jadi semua guru mengetahui perilaku tersebut dan endingnya juga sangat mudah ditebak. Anak yang memiliki karakter buruk, selain tidak merasa malu melakukannya, juga masa bodoh dengan apa tanggapan orang lain terhadap dirinya yang melanggar aturan. Lebih parah lagi, manakala ada lembaha yang malah memberikan perlindungan terhadap anak yang melanggar aturan.
Fenomena ini, bukan hanya terjadi pada lembaga pendidikan saja. Hampir semua lini kehidupan kita juga mengalami hal yang sama. Ada sang pelaku pelanggaran dapat dengan mudah akses untuk mencapai "hasrat" keburukannya, atau lebih tepatnya mendapat karpet merah melakukan pelanggaran, bahkan dibuatkan jalan dengan mengubah tatanan dan seperangkat aturan. Yang penting semua "hasrat" tersebut bisa tercapai. Tanpa peduli dengan etika dan nilai moral yang selama ini selalu digaungkan ditengah masyarakat.
Juara lancung ini, tidak akan pernah merasakan ketenangan hidup yang hakiki. Soal menampakkan dirinya seolah senang dan tenang, tidak lebih hanya sebuah sandiwara yang memang sudah mereka siapkan sejak awal pelanggaran itu terjadi.
Jadi jangan pernah berharap perubahan menuju kebaikan, manakala sang juara lancung ini diberi panggung. Karena sejatinya, tidak mungkin kita bisa berharap kain kotor akan menjadi bersih ketika dicuci dengan air kotor dan oleh orang yang kotor.
Ketika fenomena juara lancung ini, dinormalisasi sebagai sebuah hal yang biasa-biasa saja dan lumrah terjadi, bukan perubahan ke arah yang lebih baik dirasakan oleh banyak orang, tapi akan muncul semangat penolakan atas semua yang terjadi. Jangan berharap sebuah kebaikan muncul dari juara lancung, karena yang terjadi justru sebaliknya.
Kerusakan disemua lini kehidupan, secara perlahan terus menerus terjadi, sampai akhirnya akan terjadi instanbilitas dan ketidakpercayaan yang meluas. Jika sudah demikian, maka "kehancuran" tinggal menunggu waktu. Hati-hati dengan Juara Lancung.
***
~~ Mendalo Mas, 180626 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
