Keruh di Hulu
Tantangan Hari ke-2361
#TantanganGurusiana-7
***
Mengawali pesan dan hikmah dari para tetua zaman dahulu kala, pesan sederhana penuh hikmah, akan terasa di era sekarang. Mungkin dulu kita anggap hanya cerita dan kisah fiksi, tanpa ada bentuk nyata di kehidupan kita sehari-hari. Perlahan tapi pasti, pesan bijak tersebut mulai terasa.
Kita pada masa lalu, seringkali memberi kita sanggahan atas nasihat bijak, walaupun tidak secara frontal, tapi tetap saja memperlihatkan wajah kirang nyaman kepada orang yang memberi nasihat. Seolah semua wejangan tersebut hanya akal-akalan orang terdahulu. Sekarang perlahan bahkan terlihat lebih cepat sindiran tersebut sangat nyata.
Orang tua zaman dahulu sering mengungkapkan, bahwa ikan itu busuknya mulai dari kepala. Dalam asumsi kita, seolah ikan akan selalu mulai membusuk dari kepala. Ternyata itu bukan hanya dalam kondisi nyata (benar-benar ikan), tapi juga dalam bentuk sindiran bijak. Sayangnya, orang yang tebal muka alias tidak punya rasa malu ataupun orang yang "masa bodoh" tidak ada pengaruhnya dengan bahasa sindiran tersebut.
Demikian juga dengan air keruh di hulu, jangan harap bersua air yang jernih di muara. Bahasa kiasan ini tidak jauh berbeda dengan ikan itu busuknya mulai dari kepala. Jika sumber dari semua permasalahan adalah di puncak kekuasaan, jangan pernah berharap sampai ke bagian terendah akan menjadi baik. Manakala pucuk pimpinan sudah keruh dan kotor, maka tidak mungkin berharap hasilnya akan menjadi bersih.
Jika semua nasihat bijak tersebut disampaikan oleh generasi terdahulu, jiga ditujukan kepada orang yang terlahir pada generasi yang setara, mereka pasti akan paham kemana sindiran tersebut ditujukan. Berbeda dengan era kekinian. Nasihat bijak jangan harap akan didengar.
Anehnya saat nasihat disampaikan dengan cara yang baik, tidak terlintar dalam pikiran mereka untuk mengubahnya. Begitu nasihat atau pesan itu disampaikan dengan cara tegas, dianggap tidak sopan.
Begitulah perbedaan mereka yang paham dan tahu dengan amanah yang diemban, tidak demikian dengan mereka yang memang menghalalkan segala cara untuk meraih posisi dan jabatan. Tidak penting apa kata orang, bagaimana cara meraihnya, sekalipun dengan merendahkan harkat dan martabat kemanusiaannya, yang penting mendapatkan posisi dan jabatan, tentu saja dengan pendapatan yang juga luar biasa. Soal halal dan haram tidak jadi persoalan.
Jangan heran dengan banyak nasihat bijak tidak mendapat tempat ditengah kebusukan yang dipelihara. Tidak akan ada tempat nasihat bijak itu disampaikan, karena hanya angin lewat tanpa jejak dan makna. Manakala kita berjumpa dengan kondisi seperti itu, maka berhati-hatilah, karena kekacauan yang diakibatkannya sangat mengerikan. Jadi berhati-hatilah.
***
~~ Danau Kerinci, 010726 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
