Mungkinkah Menjadi Mahamurid?
Tantangan Hari ke-2384
#TantanganGurusiana-7
***
Bukam bermaksud latah, nyinyir atau apapun lah namanya. Ini semata-mata menjadi pengingat bagi setiap insan Pendidikan di negeri ini. Bukan tentang penamaan alias sebutan yang penting. Tapi bagaimana keberhasilan dan kemajuan pendidikan itu terlihat nyata ditengah-tengah masyarakat.
Ada yang sibuk mengejar nilai tinggi, sehingga jika ada tenaga pendidik (sebut saja guru, takut juga ikut berganti sebutan) yang tidak mendukung upaya tersebut, akan dikucilkan dari kelompoknya. Padahal tindak tersebut punya potensi membahayakan siswa itu sendiri kedepan. Bagaimana seandainya yang bersangkutan lulus dari jalur istimewa alias undangan. Saat memulai perkuliahan, ternyata nilai rapor yang tinggi tersebut tidak berbanding lurus dengan kenyataan dilapangan.
Namun selain masalah di atas, muncul lagi dengan perubahan sebutan kepada peserta didik. Sebelumya dipanggil "Siswa," lalu sekarang berganti sebutan menjadi "Murid." Ketika si murid lanjut ke perguruan tinggi, harusnya tidak lagi dengan status Mahasiswa, tapi Mahamurid. Karena sebelumnya sudah diganti sebutan dari Siswa menjadi Murid.
Kalau boleh jujur, bertanya dengan suara yang sangat lembut, penuh pesona dan tanpa rasa apapun. Ini tujuan mengganti nama untuk apa ya. Apakah semakin meningkat mutu pendidikannya, atau yang penting setiap pergantian pejabat, harus ada sesuatu yang "baru" dan kebijakan baru pula, demi atas nama apa. Berganti nama tanpa ada sedikitpun esensi memajukan. Apalah artinya semua pergantian nama tersebut, jika hak-hal dasar dalam pendidikan tersebut tetap saja tidak dipenuhi.
Mari sejenak kita merenung (tapi jangan sampai kerasukan, bisa bahaya). Kedepan apalagi yang akan diubah. Sekarang kata-kata kasar, hampir tiap hari kita dengarkan dari petinggi negeri ini. Lalu kepada lembaga pendidikan, dibiarkan saja semua apa adanya. Semakin berat beban yang harus mereka pikul. Menetralisir bahasa "jelek dan kasar" siswa (eh salah, maksudnya murid), sementara setiap waktu kepada mereka disuguhkan bahasa yang sangat kasar oleh pejabat dan petinggi negeri ini.
Akankah semuanya berubah menjadi lebih baik? Entahlah. Mari siapkan generasi hebat akhlaknya, mulai dari keluarga masing-masing. Jangan contoh sesuatu yang buruk, sekalipun itu datangnya dari sosok yang tidak pantas memberikan contoh buruk tersebut. Jika ingin selamat, maka selamatkan mulai dari hal kecil. Mulailah dari keluarga masing-masing. Khusus Mahamurid, aduh, kok jadi gimana gitu... Aya aya wae...
***
~~ Mendalo Mas, 240726 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
