Belajar dari Museum Sriwijaya Dharmakirti
Tantangan Hari ke-2435
#TantanganGurusiana-7
***
Kehdadiran di Museum Sriwijaya Dharmakirti, bukanlah sekadar datang dan hadir untuk menggugurkan kewajiann sesuai surat tugas dari sekolah. Lebih jauh dari itu, ada upaya melihat bagaimana kerangka sejarah itu bisa ditampilkan secara utuh. Apalagi ada bagian tertentu yang masih bisa diperdebatkan. Terutama tentang pengakuan Komplek Percandian Muaro Jambi adalah sebuah lembaga pendidikan Budhis yang terbesar di Asia Tenggara.
Kenapa sejarah itu perlu disampaikan apa adanya, tanpa ada maksud dan intrik yang disembunyikan dibalik kepentingan orang tertentu. Karena untuk mengajarkan lintas generasi agar menjadi bagian yang baik dari sebuah perjalanan sejarah. Biasanya orang yang pernah menjadi bagian kelam dari perjalanan sejarah, akan berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya dari catatan sejarah. Sehingga berbagai cara dilakukan, agar luka sejarah yang dia timbulkan dapat disembunyikan dan bahkan dihilangkan. Maka semua elemen dan kekuatan dikerahkan, agar catatan tersebut bisa hilang.
Harus diingat, bahwa serapi dan sekuat apapun bagian kelam tersebut disembunyikan dan dihilangkan, pasti ada pihak lain yang juga ikut didalam peristiwa tersebut akan mengungkapkan kehadapan publik dengan caranya sendiri. Itulah kenapa, kehadiran museum harus mampu menghadirkan rekam jejak sejarah dengan cara yang baik dan tidak menyembunyikan sedikitpun terkait perjalanan sejarah itu sendiri.
Kembali ke perjalanan Museum Sriwijaya Dharmakirti. Dari penjelasan dan rekaman yang ditampilkan, bahwa sebutan Swarnadwipa dan Sriwijaya, sempat mendapatkan pengakuan yang sama dari beberapa negara Asean. Sebut saja Thailand, Vietnam dan Kamboja. Karena di negeri mereka juga ada jejak peninggalan perjalanan Kerajaan Sriwijaya. Sehingga sangat wajar, jika ada pengakuan dari negara tersebut.
Jika kita tilik rekam jejaknya, memang wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya itu meliputi beberapa negara yang sangat dekat dengan pulau sumatera (pulau Andalas) atau ada juga yang menyebutnya Swarnadwipa. Sementara Thailand menggunakan kata SwarnaBhumi sebagai nama bandara internasional di negaranya. Ini menunjukkan ada benang merah, bahwa perjalanan Raja Sriwijaya memang benar meliputi banyak negara Asean sekarang. (Bersambung)
***
~~ Mendalo Mas, 130926 ~~
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
