Soto Selingkuh
Ada saja ide penjual untuk melariskan dagangannya. Banyak cara dilakukan, termasuk memberi nama barang dagangannya. Tentu, tujuannya membuat penasaran hingga tertarik untuk membeli.
Itu saya temui saat tugas gereja di Madura. Jam makan siang di Sumenep, mampir ke sebuah warung yang letaknya masuk ke gang. Menu yang disajikan hanya ada 3 macem. Soto jeroan, rujak cingur dan soto selingkuh. Nama makanan yang terakhir bikin penasaran banyak orang, katanya makanan khas Sumenep. Anggota rombongan saya banyak yang pilih soto selingkuh. Saya ga mau pake soto, bahannya jeroan semua. Jaga diri aja sih.
Setelah tersaji, baru tahu soto selingkuh seperti apa. Ternyata rujak yang disiram soto jeroan. Katanya sih, enak. Saya ga berani mencoba, ada jeroannya. Tapi rujak yang saya dapet juga ga well. Bayangan rujak cingur seperti di Surabaya, jauh banget. Rujaknya diberi potongan ketela pohon rebus dan krupuk ketela, bumbunya ga berasa. Apalagi yang katanya kikil, cuma kulit cecek tipis. Itupun beberapa iris saja. Dimakan juga? Ya iyalah, kan laper. Meski ga habis, pokok perut ada isi.
Ada yang menyebutnya soto selingkuh atau rujak selingkuh. Saya beri nama yang bagus ah. Rujak soto. Rujak petis disiram soto jeroan, atau soto jeroan yang ditoping rujak petis. Hayooo, mana yang bener? Mau coba? Silakan ke Sumenep. Salam bahagia.
Sby010925

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
