Repotin
Pernah merasa direpotin orang lain? Bagaimana rasanya? Ikhlas ga? Tergantung sih. Kalau direpotin orang lain, ga masalah. Asal kita ga merasa kerepotan sendiri. Bantu orang lain, biasa kan… .
Bagaimana jika hal tersebut bikin repot hingga kita merasa dirugikan? Pasti rasa jengkel, kesel bakal muncul. Meski yang dilakukannya tersebut tanpa sengaja.
Sejak pagi saya bersiap untuk pembagian rapor Rabu lusa. Print out rapor tiap murid sebanyak 5 lembar harus discan dan selanjutnya diupload ke drive sekolah. Itu berarti saya scan sebanyak 150 kali. Selesai scan, memasukkan print out rapor ke dalam map rapor besar.
Meski kelihatannya sepele, namun cukup menyita waktu. Harus sabar dan teliti. Lega, ketika kerjaan sudah kelar. Sore hari saat mau pulang, tiba-tiba ada seorang guru yang minta saya pulang belakangan. Ada apa, yaa?
Ga sabar, tanya saja ke Waka kurikulum. Eh, ternyata ada nilai rapor yang salah. Kok bisa sekelas salah semua? So harus print ulang. Berarti scan lagi dan bongkar map rapor yang sudah ready di kelas. Alamak… . Bisa pulang magrib. Beneran, saat pulang sekolah sudah sepi.
Kalau direpotin gini, mau kesel gimana. Ga kesel ya gimana. Wes, jalani aja dengan ikhlas. Beruntung, rapor belum diserahkan ke orang tua. Semoga ga terjadi dengan rekan yang lain. Salam bahagia.
Sby150626
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
