Jalasukma Cinta
Memedam rasa yang memuncak
di balik dada yang bergetar,
aku pura-pura tenang
sementara namamu membara di lidah pikiranku.
Suaramu memanggil—
lirih, basah,
seperti napas yang sengaja diperlambat
agar rindu makin menyiksa.
Jalasukma cinta tak lagi merajuk,
ia mencengkeram,
menarikku ke malam
saat kulit lupa jarak
dan waktu menyerah.
Bidikannya lembut—
terlalu lembut untuk ditolak,
namun cukup dalam
untuk membakar sumsum
dan membuatku pulang ke diriku
dengan tubuh gemetar.
Indah,
panas,
dan tak bisa dilupakan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan