T06.BAB 2. TiTIK BALIK ' KEINGINAN UNTUK MANDIRI '
Tidak semua keberanian lahir dari tepuk tangan orang banyak Kadang, keberanian tumbuh dari rasa lelah yang terlalu lama kita dipendam.
Setelah lebih kurang sembilan tahun, sejak tahun 2001 hingga 2010, aku mengabdi sebagai guru wiyata bakti di sebuah yayasan. Hari demi hari dijalani dengan penuh tanggung jawab, meski keadaan sering kali terasa berat. Ada banyak mimpi yang harus ditunda, banyak kebutuhan yang harus ditekan, bahkan kadang tenaga dan air mata seperti tidak lagi dihitung.
DIi balik semua itu, ada satu hal yang terus hidup: keinginan untuk tetap bermanfaat bagi anak-anak.
Hingga akhirnya, keberanian itu muncul tepatnya pada juli 2010 Dengan langkah yang penuh pertimbangan, aku memutuskan mengundurkan diri. Bukan karena menyerah, tetapi karena ingin menyelamatkan harapan yang mulai kehilangan arah.
Setahun berada di rumah bukanlah masa yang mudah. Sunyi, sepi sendirian dan takut tidak punya teman , dan bingung pernah datang bersamaan. Tetapi aku sadar, hidup tidak boleh berhenti hanya karena satu pintu tertutup.
Sebelumnya tepat pada tahun 2005 sabil kuliah PGPAUD aku sudah membuka bimbingan belajar kecil-kecilan di putar jam mengajar secara klasikal di rumah setiap Sabtu dan minggu dan home visit setelah pulang mengajar.. Dari rumah ke rumah, dengan segala keterbatasan, aku mencoba tetap menyalakan semangat mendidik. Hingga akhirnya, karena tidak ada lagi aktivitas lain, bimbingan belajar itu kubuka full di rumah dari jam 10.00 pagi hingga jam 8.00 malam di rumah sendiri .
Tak disangka, anak-anak mulai berdatangan. Orang tua mulai percaya. Lingkungan mulai mendukung.
Dari ruang sederhana di rumah Tempat, tumbuh harapan baru yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Di situlah aku mulai percaya, bahwa kadang Allah menutup satu jalan agar kita berani membangun jalan sendiri.
Perlahan, muncul keinginan untuk mendirikan lembaga dan yayasan mandiri. Bukan untuk menjadi besar lebih cepat, tetapi agar bisa menjadi tempat belajar yang lahir dari perjuangan, ketulusan, dan pengalaman hidup yang nyata.
Dari seorang guru wiyata dengan penuh keterbatasan, aku belajar bahwa kemandirian bukan tentang siapa yang paling kuat. Kemandirian adalah tentang siapa yang tetap mau bangkit meski pernah merasa jatuh dan sendirian, tanpa mendapat dukungan orang terdekat sebelumnya.
Kini aku percaya, mimpi besar bisa lahir dari rumah sederhana. Dan perjuangan yang dilakukan dengan hati, akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
