Desnaini .S.Pd.I

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

T21. MENGHADAPI GEN Z PERLU POLA

Banyak orang tua mengeluh, 'Anak zaman sekarang kok berani membantah orang tua?' Padahal tidak semua perbedaan pendapat adalah pembangkangan. Gen Z tumbuh di era yang mengajarkan mereka untuk bertanya, mencari informasi, dan menyampaikan pendapat. Tugas kita bukan mematikan suaranya, tetapi mengajarkan adab saat berbicara. Karena anak yang mampu berpikir kritis dan tetap menghormati orang tua adalah bekal terbaik untuk menghadapi masa depannya."

Perbedaan pendapat antara orang tua dan anak Gen Z sebenarnya hal yang wajar. Mereka tumbuh di era informasi yang sangat terbuka, sehingga terbiasa mencari referensi sendiri dan mengungkapkan pendapatnya secara langsung.

Beberapa pola dan cara yang dapat dilakukan orang tua:

Dengarkan sampai selesai Jangan langsung memotong atau menyalahkan. Biarkan anak menyampaikan alasan dan sudut pandangnya terlebih dahulu.

Bedakan antara berbeda pendapat dan tidak sopan Anak boleh memiliki pandangan yang berbeda, tetapi tetap harus menyampaikan dengan bahasa yang santun dan menghormati orang tua.

Bangun komunikasi dua arah Hindari pola "pokoknya harus menurut". Jelaskan alasan di balik aturan atau keputusan yang dibuat.

Jadilah teladan Jika orang tua mampu menghargai pendapat anak, anak juga akan belajar menghargai pendapat orang tua.

Berikan batasan yang jelas Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas melanggar aturan keluarga. Tetap ada nilai dan batas yang harus dihormati bersama.

Seperti kasus orang tua seperti di bawah ini :

Saya punya anak Gen z yang gaya bicara dan gestur tubuhnya setiap bicara seperti menantang dengan nada yang tinggi , terkadang saya memilih sedikit bicara untuk meminimalkan permasalahan , bagaimana sikap saya sebagai orang tua agar tidak terluka dengan sikap anak saya, padahal sama orang lain dia sangat santun dan sopan, apa yang harus saya lakukan untuk memulai komunikasi positif dengannya?

Nah jawaban untuk permasalahan seperti diatas sebagai berikut :

Situasi seperti ini cukup sering dialami orang tua. Yang membuat terluka bukan hanya perbedaan pendapatnya, tetapi karena Anda melihat anak bisa sangat sopan kepada orang lain, sementara kepada orang tua justru berbicara dengan nada yang terasa keras atau menantang.

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya:

Anak merasa rumah adalah tempat paling aman untuk mengekspresikan emosi tanpa harus menjaga citra diri.

Anak sedang berada pada fase ingin diakui sebagai individu yang memiliki pemikiran sendiri.

Ada kebiasaan komunikasi yang tanpa disadari sudah terbentuk bertahun-tahun, sehingga nada bicara tertentu menjadi pola saat berinteraksi dengan orang tua.

Bisa juga ada perasaan yang belum tersampaikan dengan baik dari kedua belah pihak. Yang penting, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak tidak sayang atau tidak menghormati Anda. Nada bicara yang kurang tepat memang perlu diperbaiki, tetapi belum tentu menunjukkan hilangnya rasa cinta atau hormat.

Untuk memulai komunikasi yang lebih positif:

1. Pilih waktu yang tenang, bukan saat sedang konflik. Jangan membahas sikapnya ketika emosi sedang tinggi. Cari waktu santai, misalnya saat makan bersama atau sedang dalam perjalanan.

2. Sampaikan perasaan, bukan tuduhan. Misalnya: "Nak, Ibu ingin bicara. Saat kita berdiskusi dan nada suaramu meninggi, Ibu merasa sedih dan sulit memahami maksudmu. Ibu ingin kita bisa berbicara lebih nyaman satu sama lain."

Kalimat seperti ini biasanya lebih mudah diterima daripada: "Kamu selalu membantah dan tidak sopan."

3. Dengarkan tanpa langsung membela diri. Tanyakan: "Menurutmu, apa yang membuat komunikasi kita sering tidak nyaman?"

Mungkin Anda akan mendengar hal-hal yang tidak enak. Namun mendengarkan dulu sering menjadi pintu masuk untuk memperbaiki hubungan.

4. Tetapkan batas dengan tenang. Anda berhak mengatakan: "Ibu siap mendengarkan pendapatmu, tetapi kalau nadanya tinggi, kita lanjutkan pembicaraan nanti saat sudah lebih tenang."

Ini bukan menghindar, melainkan mengajarkan cara berkomunikasi yang sehat.

5. Cari momen yang tidak selalu berisi nasihat. Banyak anak mulai menjaga jarak karena setiap percakapan terasa seperti evaluasi atau pengarahan. Cobalah sesekali mengobrol tentang minatnya, kegiatan sehari-harinya, atau hal-hal yang ia sukai tanpa memberi nasihat terlebih dahulu.

Dan untuk menjaga hati Anda sendiri, cobalah mengingat bahwa perilaku anak saat ini adalah bagian dari proses kedewasaannya, bukan ukuran keberhasilan Anda sebagai orang tua. Tetaplah tegas pada batas sopan santun, tetapi jangan biarkan setiap ucapan yang kurang menyenangkan menjadi penilaian terhadap diri Anda sebagai ibu atau ayah.

Sering kali, anak yang terlihat paling keras kepada orang tuanya justru adalah anak yang paling yakin bahwa orang tuanya akan tetap ada untuknya. Tantangannya adalah mengubah keyakinan itu menjadi hubungan yang tetap hangat dan saling menghormati

Dalam Islam, salah satu ayat yang paling sering dijadikan landasan tentang adab kepada orang tua adalah firman Allah dalam Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 23:

"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan ucapan yang menunjukkan kejengkelan ringan seperti "ah", "ih", atau ekspresi yang menyakiti hati orang tua saja sudah dilarang, apalagi membentak, meremehkan, atau berbicara dengan nada yang menyakitkan.

Namun ketika menyampaikan kepada anak, sebaiknya tidak dengan nada menghakimi. Cobalah pendekatan yang menyentuh hati:

"Nak, Ibu tidak menuntut kamu selalu setuju dengan Ibu. Kamu boleh punya pendapat sendiri, karena kamu sudah tumbuh menjadi pribadi yang berpikir. Tetapi dalam Islam, perbedaan pendapat tidak boleh menghilangkan adab. Allah bahkan melarang seorang anak mengatakan 'ah' kepada orang tuanya. Bukan karena orang tua selalu benar, tetapi karena Allah ingin menjaga kemuliaan hubungan antara anak dan orang tua."

Lalu lanjutkan dengan:

"Kalau Ibu salah, sampaikanlah. Kalau kamu tidak setuju, katakanlah. Ibu siap mendengarkan. Tetapi sampaikan dengan cara yang baik. Sebab yang dinilai Allah bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya."

Pesan seperti ini biasanya lebih mudah diterima karena tidak hanya menuntut ketaatan, tetapi juga mengakui hak anak untuk memiliki pendapat.

Anda juga bisa mengingatkan ayat berikutnya, Surah Al-Isra ayat 24:

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'"

Ayat ini mengajak anak untuk mengingat perjalanan panjang orang tua dalam membesarkan mereka. Kadang yang menyentuh hati anak bukan kalimat "kamu salah", tetapi pengingat bahwa ada orang tua yang dahulu begadang saat mereka sakit, bekerja keras untuk kebutuhan mereka, dan terus mendoakan mereka hingga dewasa.

Nasihat yang lembut sering kali lebih mengena daripada nasihat yang keras. Tujuannya bukan membuat anak merasa bersalah, tetapi membantu mereka memahami bahwa menghormati orang tua bukan sekadar budaya atau aturan rumah, melainkan bagian dari ibadah kepada Allah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post