Menulis Puisi
Sebagai guru bahasa Indonesia, jujur saya merasa belum mampu menulis sebuah puisi yang memiliki rasa dan makna. Bagi saya, menulis puisi ibarat sebuah pengungkapan rasa dari dalam jiwa pada sesuatu yang tak dapat diungkapkan secara harfiah. Sayangnya, pengungkapan itu mungkin belum mampu dikategorikan dalam sebuah puisi yang bermakna.
Apakah saya bersedih? Tentu saja karena saya adalah guru bahasa Indonesia. Akan tetapi, tidak terlalu bersedih juga mengingat seni adalah selera. Mungkin, pengungkapan rasa yang saya gunakan memang belum masuk selera para suhu dalam perpuisian meskipun saya telah berusaha membuat sebuah puisi dengan memperhatikan unsur pembangunnya, baik unsur fisik maupun unsur batin.
Dalam beberapa kali pelatihan, saya merasa puisi yang saya buat sudah sesuai. Meski demikian, masih tetap jauh dari harapan. Nilai masih pas-pasan dan tak mampu menggetarkan hati para mentor walaupun hati saya tidak hanya bergetar ketika membacanya, tetapi sudah pada tahap rontok berjatuhan. Hahaha...
Apakah saya marah? Tentu saja tidak. Karena saya dididik untuk dapat menerima kekalahan dan kekurangan saya, bukan untuk memenangkan sebuah keegoisan semata. Saya tetap akan belajar dan terus berusaha. Sampai kapan? Sampai bila sebuah piala ada di tangan saya. Amin dan semoga terlaksana.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
