Renungan Diri
Banyak filosofi terkait istilah "guru" dan yang paling umum adalah digugu dan ditiru. Bagi saya, filosofi ini tetap relevan meski faktanya mungkin jauh dari harapan. Karena kenyataannya, banyak guru yang juga tidak bisa digugu dan ditiru. Banyak guru yang hanya datang mengajar tanpa merasa memiliki beban tanggung jawab akan moral. Pun sebaliknya, banyak guru yang melihat profesinya sebagai profesi "daripada tidak ada profesi".
Suatu ketika, saya pun pernah merasa sangat malas dan marah dengan perilaku murid. Ditambah dengan orang tua yang rata-rata bila anaknya bermasalah, pasti orang tuanya juga sama. Hampir setahun saya merasa apatis, yang penting saya datang mengajar tepat waktu dan sesuai dengan tuntutan materi. Ini terjadi karena kekecewaan saya yang mendalam pada sistem. Akan tetapi, ternyata, lama-lama nurani saya juga tidak mampu melakukan hal itu terus menerus. Tetiba saya kembali marah melihat sampah berserakan, mendengar anak berkata kotor, juga melihat baju mereka yang sangat pendek. Jiwa saya merasa tidak tenang dan gelisah. Akhirnya, saya pun kembali menjadi diri saya yang dulu, seorang guru.
Kini, genap 15 tahun saya mengajar di madrasah ini. Madrasah yang memberi banyak pelajaran bagi saya, menguatkan mental, juga emosi. Memang benar, tidak ada guru terbaik, kecuali pengalaman kita sendiri. Mari merenung dan mengakui, sudahkah dari kita ada yang dapat digugu dan ditiru oleh para murid?
***
Reflektif diri
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
