Bercengkrama dengan Ibu
Jumat kali ini agenda saya begitu banyak. Istilah zaman sekarang "padat merayap". Saya yang biasanya sedikit santai karena Jumat adalah hari libur madrasah, hari ini justru tak mampu berbenah. kebetulan, ibu saya yang berasal dari kampung, datang berkunjung dan tinggal beberapa waktu di kota saya. Untuk hari ini, Beliau masih berada di rumah kakak. Sebagai mbakyu Si Ragil, tentu saja saya tetap anak-anak di mata ibu. Ketika saya dolan ke rumah kakak justru saya dilarang balik pulang karena Beliau masih ingin bercakap. Bukan hal yang serius, melainkan percakapan ngalor-ngidul saja. Mungkin sebenarnya, Beliau kangen dengan saya (mungkin sih).
Dalam binar matanya tersirat rasa bahagia. Mungkin bahagia karena melihat kami, anak-anaknya, rukun. Cucu-cucunya sehat dan tidak ada yang nakal. Mungkin juga, bahagia karena melihat kami lemu-lemu. Wakakakaka.... Kami adalah lima bersaudara. empat perempuan dan satu laki-laki. Usia kami pun tak muda lagi. Bahkan, adik saya sudah menjadi seorang hakim dan sekarang bertugas di Tanggamus, Lampung. Dalam obrolan kami, seringkali ibu teringat masa kecil kami. Beberapa kali tertawa, beberapa saat terlihat matanya berkaca-kaca. Sejujurnya, saya juga ingin menangis bila melihat masa lalu. Masa di mana kami hidup dalam keterbatasan. Makan seadanya dan tanpa mengeluh.
Ibu saya seorang yang galak ketika kami kecil. Mungkin kegalakannya sebab kami hidup dalam kekurangan. Ibu tak ingin mengecewakan kami bila tiba-tiba kami meminta sesuatu dan tak mampu membelikannya. Saya teringat ketika SD pernah meminta sepatu warna merah dan ibu menolaknya dengan alasan tidak bisa dipakai sekolah. Sepatu warna merah glossy itu bahkan masih terekam di mata saya hingga kini. Ketika saya pertama kali mendapat gaji dari pekerjaan, hal yang saya lakukan adalah membeli sepatu flat warna merah maron yang glossynya tidak ketulungan. Wakakakak. . . Beruntungnya, Pak Su tidak pernah meledek saya. Bahkan, mendukung saya untuk memakai flat shoes itu dan meyuruh saya berputar-putar, seperti penari balet. Apakah saya mau? Tentu saja. Meski risikonya sangat jelas terlihat, bukan terlihat seorang penari balet, melainkan seorang yang kesurupan jin entah dari mana.
Dalam hening saat ibu tersedu, saya menyadari satu hal bahwa orang tua akan selalu merasa bahagia dan terharu bila melihat anaknya sukses. Tidak sekedar sukses harta, tetapi sukses etika, dan juga memiliki keluarga yang bahagia.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
