Mencari Jati Diri
Hari demi hari berlalu dengan berbagai kejadian yang seringkali membuat saya hanya mampu melepas napas berat. Tidak hanya kejadian di madrasah, tetapi juga kejadian di rumah. Bila di madrasah saya disibukkan dengan materi bahasa Indonesia wajib dan Lanjut. Akan tetapi, ketika di rumah, saya disibukkan dengan dua princes beraliran genZ dan gen alpha serta satu gen X, yaitu Sang Raja alias suami saya. Wakakakaka. . . .
Siang ini, ketika princes Ela (anak saya yang ke-2) pulang dari sekolah dia minta izin untuk bergabung menjadi pengurus Dewan Galang. DG ini adalah ekstra Pramuka di MTs Darul Huda Ponorogo. Saya yang baru kriyip-kriyip karena terlelap beberapa menit pun sedikit kaget dan tentu saja menolak keinginannya. Bagaimana bisa, anak sebesar pemukul bola kasti yang ketika kemah harus masuk kamar kesehatan karena tak kuat terkena angin, tiba-tiba pamit daftar menjadi pengurus DG. Apa kabar dunia, sudah gila?Ehe', pasti begitu kata Bang Hirotada Radifan nanti. Wakakakaka. . . Ups.
Akan tetapi, bukan Jameela namanya kalau langsung setuju dan mengiyakan. Sepertinya sunnatullah akan terhenti bila itu terjadi. Tentu saja, dia masih terus berargumen dan saya pun terus berusaha mematahkan argumen itu dengan penuh kelembutan dan dasar yang masuk akal. Saya mengatakan bahwa kita boleh mengikuti segala kegiatan dengan tujuan mencari jati diri. Akan tetapi, bila kita mengikuti semua kegiatan tanpa totalitas dan hanya setengah-setengah maka yang kita dapatkan hanyalah sebuah kerugian tanpa hasil yang memuaskan. Ending-nya? Sang Princes ini pun berkata "Haaa... aku pingin nangis".
Sebenarnya tidak ada niat dalam diri saya untuk menghalangi keinginannya asalkan masih mampu dilakoni. Ikut tes olimpiade bahasa Inggris, silakan. Bahkan ketika hasil tes keluar dan dia terbengong karena salah penghitungan oleh panitia, saya pun masih mampu meredam kekecewaannya. Salah 17, benar 23 justru yang dikalikan untuk memperoleh nilai adalah 17x total nilai. Perhitungan macam apa ini. Seperti 10+6= 17 rasanya. Hiks. . . Pernah juga Jameela daftar olimpiade matematika dan dapat ditebak belum berangkat sudah angkat tangan. Sungguh saya salut dengannya semangatnya. Ketika guru Ipsnya tiba-tiba memintanya ikut olimpiade Ips, dia pun semangat belajar dari berbagai sumber meski dia mengatakan tidak menyukai Ips. Dan ketika hasilnya keluar, dia lolos tingkat Provinsi. Masyaallah tabarakallah.
Saya pun tersenyum mengingat semua perjuangannya. Begitu pun Jameela. Bahkan, mulutnya seolah tak mau menutup membaca pengumuman dari Madrasah bahwa Rabu nanti masuk ke tingkat nasional. Alhamdulillah, perjuangan baru pun dimulai dengan langkah tegap dan tujuan tepat. Bismillah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
