Pilihan Bukan Prioritas
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Sabtu adalah hari paling berat. Hari di mana orang lain memulai week end, tetapi bagi saya itu adalah hari perdana masuk kerja karena kami libur di hari Jumat. Bila Sabtu mendekat orang lain semakin semangat, tetapi bagi saya semakin lemas sebadan-badan. Apalagi bila Magrib menjelang, otak mulai berputar mencari bahan. Bahan untuk mengajar ekstra, juga pendalaman TKA. Apa tidak ada buku dari madrasah? Nah, di sinilah keunikannya. Seringkali kami telah memulai pembelajaran sedangkan buku masih dalam perjalanan panjang. Hiks . . .
Sabtu ini adalah hari pertama pendalaman TKA. Ketika masuk kelas, yang pertama saya lakukan adalah menanyakan alasan mereka mengambil mapel pilihan bahasa Indonesia Lanjut sementara tidak ada kelas peminatan bahasa di madrasah kami. Jawabannya sungguh membuat saya entah harus bahagia, entah harus merasa paling merana dari semua pilihan di mapel pilihan. Karena di peminatan agama, mapel pilihan yang ada hanyalah bahasa Arab dan bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, sedangkan pada peminatan Ips mapel pilihan yang tersedia hanyalah sosiologi dan bahasa Indonesia Tingkat Lanjut. Mata saya pun berpindah menatap murid dari peminatan Ipa dan jawabannya lebih membuat mulut saya ternganga. Karena gabut saja, mereka sudah bosan dengan hitung-hitungan. Duh Gustii, ternyata begini rupa dan rasanya menjadi terpilih bukan karena prioritas. Hiks . . . Meskipun bukan pilihan prioritas, saya tetap berjuang memberikan yang terbaik untuk mereka. Tentu saja saya tidak akan mengecewakan para pemilih saya. Eh, macam pidato Presiden saja, Wakakakaka. . .
Sambil mengangguk seolah mengerti perasaan mereka, saya bertekad akan memberikan semua keilmuan yang saya miliki. Saya ingin mereka mendapatkan ilmu tambahan walau saya merasa masih pas-pasan dalam keilmuan. Karena bagi saya,kebanyakan semua guru, keberhasilan murid yang mampu melampaui kemampuan gurunya akan selalu memberikan rasa marem di dada. Meskipun kemareman itu seringkali harus dibayar dengan harga mahal oleh sang guru: waktu, tenaga, juga biaya. Saya pun dengan lantang berkata "Baik Nak. Mari kita mulai bedah membedah segala jenis soal dan mari taklukkan TKA dengan penuh keyakinan. Bismillahirrahmaanirrahiim."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan