Renungan di Masa Perayaan Kemerdekaan
Dua hari ini semua tulisan berkisar kemerdekaan dan renungan. Saya pun sama, tetapi bukan tentang renungan kemerdekaan, melainkan renungan usia. Bila Indonesia kita berumur 81 tahun maka akan ada 81 kali renungan. Soal apa yang direnungkan? Tentu saja itu pilihan masing-masing orang.
Tanggal 16 kemarin, saya mengikuti acara reuni keluarga besar dari almarhum Mbah Kakung, yaitu Reuni Bani Mimbar. Jumlah yang hadir hampir 200-an orang, mulai dari anak-anak hingga lansia. Kami berasal dari satu trah mbah meskipun sekarang tinggal di berbagai daerah di Jawa Timur. Yang membuat saya salut, dalam acara ini tak ada satu pun dari Bani (sebutan untuk anak-anak/keturunan dari) yang terlihat flexing. Semua yang hadir terlihat santai dalam berbusana dan menyapa satu sama lain dengan ramah. Tak ada bahasan tentang harta, pun jabatan dalam pekerjaan atau sejauh mana keberhasilanmu saat ini. Semua murni dalam keadaan bahagia.
Saya juga bertemu beberapa anak dari keponakan yang telah meninggal. Alhamdulillah, mereka tumbuh dengan baik bersama ayahnya. Tersentil hati ini, ponaan saya telah tiada sementara saya yang lebih tua masih diberi usia dan apakah sudah memanfaatkannya dengan baik? Saya juga bertemu keponakan-keponakan yang dulu masih saya gendong, sekarang justru telah menggendong bayi. Begitu juga dengan para kakak sepupu yang dulu masih ikut bersama keluarga saya, kini telah menggendong cucu. Termenung dalam diam, ternyata saya memang telah tua.
Acara yang berlangsung dalam waktu dua jam itu telah memberi saya banyak pelajaran. Tentang usia, tentang rasa ikhlas, tentang kebersamaan dan banyak lagi yang lainnya. Saya berpikir, apa amalan Mbah dahulu sehingga mampu menghasilkan keturunan yang rukun meskipun kami memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Ada yang menjadi hakim tinggi, pegawai negeri, guru, kiai, pedagang, warung kopi, buruh pabrik, bahkan ada yang pengangguran. Akan tetapi, hal itu tidak memengaruhi acara yang sudah ada sejak tahun 1988 ketika saya masih kelas 2 SD. Kami tetap bisa bercanda dan saling menyapa tanpa ada rasa sungkan atau merasa lebih dari yang lainnya. Hal inilah yang membuat saya selalu datang di acara reuni tahunan ini, meskipun jauh dan di tengah padatnya jadwal pekerjaan karena saya berharap nanti anak keturunan saya juga akan menjadi trah yang baik di dunia dan di akhirat. Amin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
