Dewi Zulin

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bad Attitude
sumber gambar: https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20171121/an-1-3311e07d0bd63dd2cf9b068b1e5014ef.jpg

Bad Attitude

Ketika kita mendapati suatu perlakukan tidak mengenakkan, tentu rasa marah akan muncul. Apalagi, bila itu dilakukan oleh murid kita sendiri. Begitu pun yang saya alami. Beberapa hari yang lalu, saya mengikutkan seorang murid dalam lomba menulis resensi yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan Daerah. Sebenarnya, bukan kehendak pribadi saya. Ketika rapat, Bapak Kepala tiba-tiba mengirimkan melalui pesan WA perihal permintaan peserta dari Dinas Perpustakaan daerah untuk mengikuti lomba resensi buku berbasis koleksi Perpusda.

Saat itu, rasanya saya nge-blank. Bagaimana tidak? Dalam waktu singkat dan situasi libur, ke mana saya harus mencari anak-anak? Juga siapa kira-kira yang saya mintai tolong untuk mengikuti lomba ini? Sementara ini bukanlah lomba biasa. Ibarat kata, hari gini siapa yang masih mau membaca buku? Akhirnya, setelah melalui pemikiran yang panjang, saya memutuskan untuk menghubungi salah satu murid. Alhamdulillah, dia bersedia mengikuti lomba tersebut. Seingat saya memang dia memiliki bakat dalam menulis resensi. Saya tahunya ketika ada tugas di kelas 11 perihal resensi, tulisannya layak disebut sebuah resensi.

Hari berganti, minggu berlalu. Tibalah pada saat pengumuman kelolosan. Lagi-lagi alhamdulillah, murid tersebut lolos babak penjaringan dan dijadwalkan mengikuti pembekalan sebelum bersaing final. Dada saya saat itu rasanya ngembang. Wakakakkaka. . . Tapi sayang seribu sayang, ternyata kenyataan tak seindah harapan. Setelah pembekalan, harapan saya, dia mendapat ilmu dan bisa ditularkan pada saya untuk diwariskan pada adik-adik kelasnya nanti. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Dia menyalahkan saya karena resensinya masih banyak yang salah. Kover buku belum ada, pendahuluan kurang lengkap, dan analisisnya kurang tajam. Gong-nya saat dia berkata,"La Ustazah ini gimana to? Masak resensi saya banyak salahnya!".

Saya hanya diam. Rasanya spechles. Bukankah saya sudah mengatakan sejak awal, kamu yang lomba maka saya hanya membantu mengganti konjungsi agar sesuai kaidah yang benar. Saya tidak mengganti substansi isinya. Saya pernah mengatakan pada pendahuluan sebaiknya kamu tambahkan perbandingan karya yang mungkin dimiliki penulis tersebut. Juga pada analisis, belum ada jumlah Bab ada berapa dan Bab mana yang kamu maksud memiliki kekurangan. Jika semua saya yang membenahi, lalu hakikatnya siapa yang mengikuti lomba ini? Bukankah dengan lolos penjaringan dan mengikuti pembekalan, kita justru tahu di mana letak salahnya sehingga mampu membenahi menjadi lebih baik lagi menuju babak final. Alih-alih menyalahkan, seharusnya kita bersyukur karena masih diberi kesempatan lolos dan masuk babak final. Wallahu A'lam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post