Literasi Baca Tulis Tertutupi Literasi Digital
Menurut lpmplampung.kemdikud.go.id, literasi baca tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.Sedangkan Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangjka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Setahun di pandemi Covid-19 sejak 16 Maret 2020-15 Maret 2021 telah mengubah anak-anak dalam setahun ini. Budaya baca tulis menjadi budaya digital.Mengembalikan anak-anak menjadi budaya baca tulis, tidak seperti membalikkan tangan.Orang tua harus menunggu sampai akhir tahun 2021. Setelah 80% masyarakat di Indonesia di vaksin.Jangan katakan kemampuan baca dan menulis anak-anak kurang atau tidak mampu. Tidak ada lagi anak-anak yang tidak tahu baca tulis.Semua anak-anak sudah tahu membaca dan menulis.Yang hilang dari anak-anak kita adalah budaya baca tulis berubah menjadi budaya digital.Apa yang menyebabkannya adalah akses. Tempat, sarana membeli buku bacaan anak-anak tidak dapat dikunjungi dan takut kemana-mana.Sehingga minat membaca dan membeli buku cerita anak berkurang terjadi penurunan. Lockdown di rumah saja.Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah.Selesai PJJ handphone masih di gemgaman anak-anak kita.Buka google, tidak ada yang tidak tahu google memberitahukan jawabannya. Anak ingin mengetahui Kisah Patung Sigale-gale klik di google, muncul cerita legenda Patung Sigale-gale Samosir-Tripelaketoba .Literasi digital menyatu pada anak-anak kita selama satu tahun di pandemi Covid-19.Bagaimana membangkitkan Anak Indonesia Cinta Buku bukan cinta digital.
Penulis menyarankan rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia , mengijinkan belajar tatap muka (BTM) tahun pelajaran 2021-2022.Penulis menyarankan perpustakaan di sekolah ditambah dengan buku cerita anak-anak.Tujuannya menghilangkan trauma PJJ secara daring yang selalu menggunakan handphone menjadi pembelajaran tatap muka yang cinta buku.Hilangkan literasi digital menjadi literasi baca tulis dengan buku-buku seperti fabel, cerita rakyat, cerita bergambar, mendonggeng dan kumpulan puisi.Jika kita sediakan buku-buku pelajaran di awal pembelajaran tatap muka. Anak Indonesia Cinta Buku akan mengalami penurunan, mungkin menurun secara drastis. Ada si google tidak usah membaca buku pelajaran. Saran penulis awali dengan buku cerita anak. Buku ini dapat dibuat oleh guru kelas/guru mata pelajaran dengan memenuhi syarat (momsinstitute.com).Tips menulis buku anak diantaranya
1.Gunakan kalimat pendek
2.Gunakan pilihan diksi yang mudah dimengerti
3.Selipkan pesan moral
4.Jika menulis buku pelajaran sumber buku harus jelas
5.Mencintai dunia anak.
Bagaimana masyarakat, orang tua, sekolah, dan guru membangkitkan Anak Indonesia Cinta Buku.Awalilah dengan menyediakan buku cerita anak-anak di sekolah.Selama satu minggu hilangkan literasi digital di PJJ dengan literasi baca tulis.Bangkitkan cinta buku, dengan sumber-sumber bacaan anak-anak.Satu tahun di pandemi Covid-19 dengan PJJ.Akan kembali dengan BTM cinta buku.Buat anak-anak yang penulis cintai dan banggakan.Pandemi Covid-19 momentum yang tidak bisa dilupakan oleh siapapun.Tetapi janganlah media digital dan alat-alat komunikasi menguasai diri kita.Gunakan media digital dan alat-alat komunikasi saat kita memang tidak mengerti, tetapi bacalah buku paket yang diberikan oleh sekolah menjadi kawan setia kita belajar di rumah.Buku pelajaran yang diberikan oleh sekolah mengajarkan kepada anak-anak asal mulanya materi yang kita pelajari.Jika anda bergantung media digital dan alat-alat komunikasi.Langsung diberikan jawaban yang anak-anak inginkan.Praktis memang, tetapi menghilangkan minat baca pada diri kita.Bangkitlah anak-anak yang ibu cintai dan banggakan awali hari ini dengan “Anak Indoneisa Cinta Buku”.(Djuni Posma Rouli)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
