Taman Ceria Dari Bangun Datar (8)
T, 342
Setelah anak-anak kembali ke kelas, Pak Rahmat masih berdiri sejenak di depan meja tempat taman bangun datar itu disusun. Ia memandang hasil kerja murid-muridnya dengan perasaan hangat.
Dalam hati Pak Rahmat berkata, “Hari ini anak-anak tidak hanya belajar tentang persegi, segitiga, belah ketupat, atau trapesium. Mereka belajar bagaimana menghadapi masalah yang tidak langsung terlihat jawabannya.”
Ia teringat bagaimana pada awalnya anak-anak bingung, bahkan sempat berbeda pendapat. Ada yang ingin memakai persegi panjang, ada yang memilih layang-layang, ada pula yang bersikeras pada trapesium dan belah ketupat.
Namun justru dari perbedaan itulah, mereka mulai:
mengemukakan ide, mendengarkan pendapat teman, mencoba, salah, lalu memperbaiki.Pak Rahmat tersenyum kecil. “Inilah tujuan pembelajaran berbasis pemecahan masalah,” pikirnya. Bukan sekadar menemukan jawaban yang benar, tetapi melatih cara berpikir, bekerja sama, dan berani mencoba.
Ia yakin, pengalaman menyusun taman dari bangun datar hari ini akan melekat dalam ingatan murid-muridnya. Suatu hari nanti, ketika mereka menghadapi masalah yang lebih besar, mereka akan ingat bahwa masalah bisa dipecah, disusun ulang, dan diselesaikan—seperti mereka menyusun taman kecil mereka hari ini.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan