Dr. Atikah Sari, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Literasi di Kelas 6 SD Menguatkan Pemahaman sebagai Bekal Menuju Jenjang Lebih Tinggi

T. 390

 

Kemampuan literasi pada murid sekolah dasar tidak berhenti pada tahap mampu membaca dan menulis. Pada kelas tinggi, khususnya kelas 6 SD, literasi harus berkembang menjadi kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Kelas 6 merupakan fase akhir pendidikan dasar, sehingga kegiatan literasi pada tahap ini memiliki peran strategis dalam menyiapkan murid menghadapi jenjang pendidikan berikutnya. Tanpa literasi yang kuat, murid akan mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran yang semakin kompleks di SMP.

Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dalam kajian lanjutan terhadap data PISA 2018, kemampuan literasi membaca diukur melalui tiga aspek utama, yaitu menemukan informasi, memahami isi bacaan, serta mengevaluasi dan merefleksikan teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa Indonesia masih lemah pada kemampuan memahami  teks, menarik kesimpulan dan merefleksikan bacaan, bukan hanya pada kemampuan membaca permukaan (Tampubolon, 2025).

Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian di Indonesia yang menunjukkan bahwa kebiasaan membaca siswa masih tergolong rendah. Kajian literatur tentang kebiasaan membaca siswa di Indonesia pada periode 2019–2024 menemukan bahwa penggunaan gawai yang lebih dominan untuk hiburan dibandingkan membaca menjadi salah satu faktor menurunnya minat baca. Rendahnya kebiasaan membaca ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan memahami teks dan berpikir kritis (Aryan & Hadi, 2025).

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar masih belum optimal dan perlu diperkuat melalui program literasi sekolah yang terencana. Program literasi yang terintegrasi dalam pembelajaran terbukti membantu meningkatkan kemampuan memahami bacaan sekaligus mendukung pencapaian kurikulum.

Secara perkembangan kognitif, murid kelas 6 berada pada tahap operasional konkret menuju operasional formal menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Jean Piaget. Pada tahap ini, murid mulai mampu berpikir logis, memahami hubungan sebab-akibat, serta mulai belajar berpikir abstrak. Oleh karena itu, kegiatan literasi di kelas 6 harus memberikan pengalaman membaca yang menuntut analisis, penalaran, dan refleksi. Murid tidak cukup hanya diminta membaca teks, tetapi perlu diajak berdiskusi, menyimpulkan, membandingkan, dan memberikan pendapat terhadap bacaan.

Dalam konteks kebijakan pendidikan di Indonesia, penguatan literasi sejalan dengan arah pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam (deep learning). Literasi menjadi pintu masuk bagi hampir semua mata pelajaran, karena kemampuan memahami teks sangat menentukan keberhasilan belajar. Murid yang memiliki literasi baik akan lebih mudah memahami soal, mengaitkan konsep, serta menyelesaikan masalah secara mandiri.

Kegiatan literasi di kelas 6 dapat dilakukan melalui berbagai strategi yang menantang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Misalnya, murid membaca teks nonfiksi kemudian diminta menemukan gagasan utama, membuat ringkasan, menuliskan kembali dengan bahasa sendiri, atau memberikan tanggapan terhadap isi bacaan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah membaca cerita lalu mendiskusikan pesan moral, karakter tokoh, serta kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Aktivitas seperti ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan memahami dan menilai informasi.

Selain itu, guru perlu membiasakan literasi sebagai budaya belajar, bukan hanya kegiatan tambahan. Program membaca 10–15 menit sebelum pelajaran dimulai dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar jika dilakukan secara konsisten. Murid kelas 6 juga perlu dikenalkan dengan berbagai jenis bacaan, seperti artikel, laporan, biografi, cerita sejarah, dan teks informasi. Keragaman bacaan akan memperluas wawasan sekaligus melatih kemampuan memahami berbagai bentuk teks.

Penguatan literasi di kelas 6 juga berkaitan dengan kesiapan murid menghadapi evaluasi pembelajaran yang menuntut kemampuan memahami soal berbasis teks. Banyak murid mengalami kesulitan bukan karena tidak menguasai materi, tetapi karena tidak memahami maksud soal. Hal ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab guru bahasa Indonesia, melainkan tanggung jawab semua guru.

Pada akhirnya, literasi di kelas 6 SD bukan hanya tentang meningkatkan nilai pelajaran, tetapi tentang menyiapkan murid menjadi pembelajar mandiri. Murid yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami pelajaran, lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, dan lebih siap menghadapi tantangan di jenjang pendidikan berikutnya. Oleh karena itu, penguatan literasi di kelas 6 harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan, agar lulusan sekolah dasar tidak hanya mampu membaca, tetapi juga mampu memahami, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan secara bijak.

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post