Menguatkan Pemahaman, Memperluas Wawasan, dan Membangun Fondasi Pembelajaran Mendalam Mela
T. 388

Kemampuan literasi di sekolah dasar tidak berhenti pada tahap mengenal huruf atau membaca lancar. Memasuki kelas 4 SD, literasi seharusnya berkembang menuju kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi untuk berpikir. Pada tahap ini, murid tidak lagi belajar membaca, tetapi membaca untuk belajar. Oleh karena itu, penguatan literasi di kelas 4 menjadi sangat penting karena menjadi dasar bagi pembelajaran yang lebih kompleks serta menjadi fondasi bagi terwujudnya pembelajaran mendalam (deep learning).
Programme for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan teks untuk mencapai tujuan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Begitu pun dalam Gerakan Literasi Nasional yang menegaskan bahwa literasi tidak hanya membaca, tetapi kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara kritis.
Hasil PISA Indonesia dan Pentingnya Penguatan Literasi Sejak SD
Hasil studi PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Skor membaca Indonesia berada di kisaran 359, masih jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di sekitar 476. Hasil ini menunjukkan bahwa banyak peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami isi teks, menarik kesimpulan, serta menghubungkan informasi dengan konteks kehidupan.
Temuan PISA juga menunjukkan bahwa sebagian besar murid Indonesia berada pada level kemampuan dasar, yaitu hanya mampu menemukan informasi yang tersurat, tetapi belum mampu menafsirkan, mengevaluasi, dan merefleksikan isi bacaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah masih banyak berfokus pada hafalan, belum sepenuhnya mendorong pemahaman mendalam.
Jika kondisi ini tidak diperbaiki sejak sekolah dasar, terutama pada kelas menengah seperti kelas 4, maka kesulitan memahami pelajaran akan terus terbawa hingga jenjang lebih tinggi. Oleh karena itu, penguatan literasi di kelas 4 menjadi sangat strategis untuk memperbaiki kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir murid.
Kelas 4 sebagai Tahap Penting Menuju Pembelajaran Mendalam
Secara perkembangan kognitif, menurut teori Jean Piaget, murid kelas 4 berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak mulai mampu berpikir logis, memahami hubungan sebab akibat, mengelompokkan informasi, serta menarik kesimpulan sederhana, tetapi masih membutuhkan contoh nyata. Tahap ini merupakan masa yang tepat untuk mulai menerapkan pembelajaran yang tidak hanya menekankan hafalan, tetapi pemahaman.
Konsep pembelajaran mendalam (deep learning) menekankan bahwa belajar harus membuat murid memahami makna, mampu menghubungkan konsep, serta menggunakan pengetahuan dalam situasi baru. Dalam pembelajaran seperti ini, literasi menjadi kunci utama, karena hampir semua proses belajar dilakukan melalui membaca, memahami, berdiskusi, dan menulis.
Tanpa kemampuan literasi yang baik, pembelajaran mendalam sulit tercapai. Murid mungkin dapat menjawab soal, tetapi belum tentu memahami konsep. Sebaliknya, murid yang memiliki literasi kuat akan lebih mudah menganalisis, bertanya, dan menemukan hubungan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya.
Literasi sebagai Fondasi Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran mendalam menuntut murid aktif berpikir, bukan sekadar menerima informasi. Dalam proses ini, literasi berperan untuk:
Memahami materi pelajaran Menafsirkan informasi Mengajukan pertanyaan Menarik kesimpulan Menyampaikan pendapat secara logis Menghubungkan pelajaran dengan kehidupanDi kelas 4, murid mulai belajar melalui teks yang lebih panjang, soal cerita yang lebih kompleks, serta penjelasan yang membutuhkan pemahaman. Murid juga diharapkan dapat menyimpulkan informasi, menjelaskannya dengan bahasa sendiri, serta dapat menghubungkan bacaan dengan pengalamannya.
Jika literasi tidak kuat, murid akan kesulitan mengikuti pembelajaran di kelas 5 dan 6, karena hampir semua materi disampaikan melalui bacaan.
Literasi sebagai Kunci Keberhasilan Belajar
Di kelas 4, tuntutan belajar meningkat. Murid mulai membaca teks penjelasan, cerita, tabel, grafik, dan soal cerita yang lebih kompleks. Tanpa literasi yang baik, murid sering gagal memahami pelajaran bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak memahami apa yang dibaca.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa literasi membaca membantu murid memperoleh informasi, memahami materi, dan meningkatkan keterampilan berpikir, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif. Kemampuan membaca pemahaman memiliki hubungan kuat dengan hasil belajar di berbagai mata pelajaran. Murid akan lebih mudah memahami berbagai pelajaran bila memiliki kemampuan literasi yang baik karena mampu menangkap makna dari teks yang dibaca
Karena itu, literasi tidak boleh hanya dilakukan pada pelajaran Bahasa Indonesia saja, tetapi harus menjadi bagian dari semua mata pelajaran.
Strategi Literasi untuk Mendukung Pembelajaran Mendalam di Kelas 4
Agar literasi benar-benar mendukung pembelajaran mendalam, kegiatan membaca harus diikuti dengan kegiatan berpikir. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Membaca dengan pertanyaan pemantik Guru memberi pertanyaan sebelum membaca agar murid membaca dengan tujuan.
Contoh:
Mengapa peristiwa ini terjadi? Apa pelajaran yang bisa diambil? Bagaimana jika hal ini terjadi di kehidupan kita?2. Diskusi setelah membaca Diskusi membantu murid memahami lebih dalam dan melihat berbagai sudut pandang.
3. Menulis ringkasan atau pendapat Menulis membuat murid mengolah informasi, bukan hanya mengingat.
4. Mengaitkan bacaan dengan kehidupan nyata Pembelajaran menjadi mendalam jika murid merasa apa yang dipelajari bermakna.
5. Menggunakan teks dalam semua mata pelajaran Literasi harus hadir di Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya.
Tantangan Literasi di Kelas 4
Masih ditemukan murid kelas 4 yang belum lancar membaca. Dalam pelaksanaan literasi di SD juga menunjukkan bahwa kurangnya fasilitas, kurangnya variasi kegiatan, dan rendahnya kebiasaan membaca menjadi kendala utama (Rohim & Rahmawati, 2020). Selain itu, masih banyak kegiatan literasi dilakukan sebatas membaca 10–15 menit tanpa tindak lanjut. Akibatnya, murid membaca tetapi tidak selalu memahami. Keterbatasan buku, kebiasaan penggunaan gawai, serta pembelajaran yang masih berpusat pada guru juga menjadi hambatan dalam membangun budaya literasi.
Hasil PISA menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan masih menjadi kelemahan utama, sehingga sekolah perlu mengubah cara belajar dari sekadar menyampaikan materi menjadi membangun pemahaman.
Peran Guru dalam Menguatkan Literasi dan Pembelajaran Mendalam
Guru memiliki peran penting dalam menghubungkan literasi dengan pembelajaran mendalam. Guru perlu merancang pembelajaran yang membuat murid membaca, berpikir, berdiskusi, menulis dan menyampaikan pendapatnya.
Guru perlu:
Membiasakan membaca dengan tujuan Mengajak murid bertanya Memberi kesempatan berdiskusi Melatih menulis Mengaitkan pelajaran dengan kehidupan Mengkomunikasikan ide dan pendapatnyaJika hal ini dilakukan secara konsisten, literasi tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri.
Penutup
Hasil PISA Indonesia menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca masih perlu diperkuat. Penguatan tersebut harus dimulai sejak sekolah dasar, terutama di kelas 4 yang menjadi tahap penting menuju pembelajaran yang lebih kompleks. Literasi yang dikaitkan dengan pembelajaran mendalam akan membantu murid tidak hanya mengetahui, tetapi memahami, menganalisis, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan.
Literasi berpengaruh langsung terhadap minat baca, kemampuan memahami, dan hasil belajar murid. Karena itu, penguatan literasi di kelas 4 harus dilakukan secara serius, terencana, dan berkelanjutan.
Literasi bukan sekadar program, tetapi fondasi pembelajaran. Literasi harus dibangun setiap hari. Jika literasi kuat, pembelajaran akan lebih bermakna. Jika pembelajaran bermakna, murid akan tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan