Dr. Atikah Sari, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pentingnya Literasi di Sekolah Fondasi Peradaban dan Daya Saing Bangsa

T, 384

“Bagaimana mungkin seorang anak mampu memahami dunia, jika ia belum akrab dengan kata-kata yang menjelaskannya?”

Pertanyaan sederhana ini menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi utama dalam membangun nalar, karakter, dan peradaban. Di sekolah, literasi menjadi pintu masuk bagi seluruh proses pembelajaran. Tanpa literasi yang kuat, pembelajaran hanya akan menjadi aktivitas administratif, bukan proses pemaknaan.

Literasi sebagai Hak Dasar dan Amanat Regulasi

Pentingnya literasi di sekolah bukan sekadar wacana moral, melainkan amanat kebijakan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Semua tujuan tersebut mensyaratkan kemampuan literasi yang baik.

Selain itu, penguatan literasi juga menjadi bagian dari kebijakan nasional melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mendorong Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai upaya sistematis membangun budaya membaca dan berpikir kritis di satuan pendidikan.

Literasi: Lebih dari Sekadar Membaca

Di sekolah dasar, literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca lancar. Padahal, literasi mencakup kemampuan memahami, menafsirkan, menganalisis, hingga mengevaluasi informasi. Dalam konteks pembelajaran abad ke-21, literasi berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Anak yang memiliki literasi baik akan:

Lebih mudah memahami soal cerita dalam matematika (numerasi). Mampu menyimpulkan isi bacaan IPA atau IPS. Terampil mengekspresikan gagasan secara lisan dan tulisan. Lebih percaya diri dalam berdiskusi.

Dengan kata lain, literasi adalah “kunci” yang membuka akses ke semua mata pelajaran.

Literasi dan Tugas Perkembangan Murid SD

Pada usia sekolah dasar, anak berada pada tahap perkembangan operasional konkret. Mereka belajar memahami dunia melalui bahasa dan pengalaman nyata. Literasi membantu mereka:

Mengembangkan kosa kata dan struktur berpikir. Melatih konsentrasi dan ketekunan. Membangun empati melalui cerita. Memahami nilai moral dan sosial.

Ketika sekolah menghadirkan budaya literasi—membaca 15 menit sebelum belajar, pojok baca kelas, jurnal refleksi harian—sebenarnya sekolah sedang menanamkan kebiasaan berpikir mendalam dan terstruktur.

Tantangan Literasi di Sekolah

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa budaya literasi belum sepenuhnya mengakar. Tantangan yang sering muncul antara lain:

Minat baca yang rendah. Ketergantungan pada gawai tanpa pendampingan literatif. Keterbatasan bahan bacaan berkualitas. Literasi yang masih dianggap tanggung jawab guru Bahasa Indonesia semata.

Padahal, literasi adalah tanggung jawab seluruh guru. Guru matematika menguatkan literasi melalui pemahaman soal cerita. Guru IPA membangun literasi melalui laporan pengamatan. Guru PPKn menumbuhkan literasi kritis melalui diskusi nilai.

Membangun Budaya Literasi yang Bermakna

Agar literasi tidak berhenti sebagai slogan, sekolah perlu membangun ekosistem yang mendukung, antara lain:

Keteladanan guru sebagai pembaca aktif. Ruang baca yang nyaman dan mudah diakses. Integrasi literasi dalam semua mata pelajaran. Kegiatan refleksi dan menulis rutin. Kolaborasi dengan orang tua.

Literasi harus hadir sebagai budaya, bukan program sesaat.

Penutup

Sekolah yang kuat dalam literasi akan melahirkan generasi yang mampu berpikir jernih, bersikap kritis, dan bertindak bijaksana. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.

Jika kita ingin melihat masa depan bangsa yang cerdas dan berdaya saing, maka jawabannya sederhana: mulailah dari literasi di sekolah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post