Tantangan Digitalisasi Pembelajaran di SD
T. 393
Digitalisasi pembelajaran menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan di Indonesia. Hal ini mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 yang merupakan payung hukum Kurikulum Merdeka untuk mendorong pemanfaatan teknologi untuk membangun kompetensi abad ke-21, seperti literasi digital, berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Selain itu, Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 yang menekankan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning) serta penambahan materi terkait teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial pada jenjang pendidikan dasar secara bertahap.
Namun, penerapan digitalisasi di Sekolah Dasar (SD) menghadapi berbagai tantangan nyata. Berbagai hasil riset menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan guru, karakteristik murid, infrastruktur, dan dukungan lingkungan belajar.
Karakteristik Murid SD Masih Membutuhkan Pembelajaran Konkret
Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, murid SD berada pada tahap operasional konkret, yaitu tahap di mana anak lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung daripada melalui simbol atau media abstrak.
Penggunaan teknologi digital yang terlalu dominan berisiko membuat pembelajaran menjadi kurang bermakna jika tidak diimbangi dengan aktivitas nyata. Bahkan beberapa kajian internasional menunjukkan bahwa penggunaan layar yang berlebihan pada anak dapat memengaruhi perhatian, kemampuan bahasa, dan interaksi sosial jika tidak dikontrol dengan baik.
Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi di SD harus bersifat pendukung, bukan pengganti pengalaman belajar langsung.
Kesiapan Guru Masih Menjadi Tantangan Utama
Hasil penelitian Hutagalung dan Rubani (2021) menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakan teknologi masih perlu ditingkatkan. Dalam penelitian terhadap guru sekolah dasar, ditemukan bahwa keterampilan literasi digital belum optimal sehingga perlu penguatan agar guru mampu merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif berbasis teknologi.
Hasil kajian Saifudin dan Putra (2024) menegaskan bahwa keberhasilan penerapan pembelajaran digital sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru, dukungan pelatihan, serta kemampuan memilih media yang sesuai dengan usia murid.
Tanpa peningkatan kompetensi guru, digitalisasi justru dapat menambah beban kerja, bukan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kesenjangan Infrastruktur dan Akses Teknologi
Masalah lain yang sering muncul adalah kesenjangan fasilitas antar sekolah. Tidak semua SD memiliki jaringan internet stabil, perangkat komputer, atau media pembelajaran digital yang memadai.
Amarudin dkk (2021) yang melakukan penelitian pada murid SD menunjukkan bahwa meskipun 82% murid memiliki perangkat digital, penggunaan teknologi untuk belajar belum optimal dan masih didominasi penggunaan untuk aktivitas sehari-hari.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan literasi dasar dengan kesiapan digital murid. Murid dengan kemampuan membaca dan numerasi yang baik cenderung lebih siap menggunakan teknologi, sementara keterbatasan literasi dasar menjadi hambatan dalam pembelajaran digital (Setyawan & Citrawati, 2023).
Artinya, digitalisasi tidak bisa berhasil tanpa fondasi literasi yang kuat.
Literasi Digital Anak SD Masih Berfokus pada Akses, Belum pada Etika dan Pemahaman
Izzah dkk (2025) melakukan penelitian literasi digital di SD menemukan bahwa sebagian besar program masih berfokus pada penggunaan teknologi, sementara aspek etika digital, keamanan, dan pemahaman kritis masih kurang mendapat perhatian.
Padahal dalam pembelajaran digital, murid tidak hanya perlu bisa menggunakan perangkat, tetapi juga harus mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Jika aspek ini diabaikan, digitalisasi justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti ketergantungan gadget, kurangnya konsentrasi, dan rendahnya kemampuan membaca mendalam.
Peran Orang Tua Sangat Menentukan di Jenjang SD
Berbeda dengan murid SMP atau SMA, murid SD masih sangat membutuhkan pendampingan dalam menggunakan teknologi. Penelitian tentang pembelajaran berbasis teknologi menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan ICT tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga pada dukungan keluarga, lingkungan, dan kondisi sosial (Marsden, 2023).
Tanpa pendampingan orang tua, penggunaan perangkat digital bisa lebih banyak digunakan untuk hiburan daripada belajar. Hal ini menjadi tantangan besar terutama di daerah dengan keterbatasan waktu dan pemahaman orang tua terhadap teknologi.
Digitalisasi Harus Seimbang dengan Penguatan Literasi Dasar
Berbagai negara bahkan mulai kembali menekankan penggunaan buku cetak dan latihan menulis tangan karena penggunaan teknologi yang berlebihan dikhawatirkan mengganggu kemampuan dasar membaca dan memahami (Pele, 2023).
Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa digitalisasi tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan dasar, yaitu membangun kemampuan membaca, menulis, berhitung, berpikir, dan berkarakter.
Di SD, teknologi seharusnya digunakan untuk:
memperkaya media pembelajaran, memudahkan visualisasi konsep, meningkatkan motivasi belajar, bukan menggantikan peran guru dan pengalaman nyata.Penutup
Digitalisasi pembelajaran di SD merupakan kebutuhan di era modern, tetapi pelaksanaannya tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Hasil riset menunjukkan bahwa tantangan terbesar terletak pada kesiapan guru, kesenjangan infrastruktur, kemampuan literasi dasar murid, serta pendampingan orang tua.
Jika digitalisasi dilakukan tanpa memperhatikan tahap perkembangan anak dan kondisi sekolah, maka teknologi hanya menjadi simbol modernisasi, bukan peningkatan mutu pendidikan.
Sebaliknya, jika digitalisasi dilakukan secara bijak—dengan tetap memperkuat literasi dasar, pengalaman belajar konkret, dan peran guru—maka teknologi dapat menjadi jembatan menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan berkualitas di sekolah dasar.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan