Dr. Atikah Sari, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Tantangan Pembelajaran Digitalisasi Antara Harapan Transformasi dan Realitas di Lapangan

T. 392

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas, buku cetak, dan papan tulis, tetapi telah bergeser ke layar gawai, platform daring, dan berbagai aplikasi pembelajaran. Pemerintah Indonesia melalui program transformasi pendidikan terus mendorong digitalisasi sekolah sebagai upaya meningkatkan mutu pembelajaran dan menyiapkan generasi yang mampu bersaing di era global. Namun, di balik harapan besar tersebut, digitalisasi pembelajaran juga menghadirkan berbagai tantangan nyata yang masih dirasakan oleh guru, murid, maupun sekolah.

Digitalisasi pembelajaran semakin mendapat perhatian sejak pandemi COVID-19, ketika kegiatan belajar harus dilakukan secara daring. Sejak saat itu, penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Permendikbudristek No. 8 Tahun 2022 mendorong pemanfaatan platform digital seperti Merdeka Mengajar, rumah belajar, dan berbagai media pembelajaran berbasis teknologi. Tujuan utamanya adalah menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel, interaktif, dan berpusat pada murid.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua sekolah siap menghadapi perubahan ini. Tantangan pertama yang paling nyata adalah kesenjangan infrastruktur digital. Masih banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, yang memiliki keterbatasan akses internet, perangkat komputer, maupun listrik yang stabil. Tanpa dukungan sarana yang memadai, digitalisasi pembelajaran sulit dilaksanakan secara optimal. Data dari berbagai laporan pendidikan menunjukkan bahwa kesenjangan akses teknologi masih menjadi salah satu penyebab perbedaan kualitas pendidikan antarwilayah di Indonesia.

Tantangan kedua adalah kesiapan guru dalam menggunakan teknologi. Tidak semua guru memiliki pengalaman dan keterampilan dalam memanfaatkan media digital untuk pembelajaran. Rendahnya literasi digital menghambat optimalisasi teknologi oleh guru. Sebagian guru masih terbiasa dengan metode konvensional sehingga membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Digitalisasi bukan hanya soal menggunakan perangkat, tetapi juga mengubah cara mengajar, merancang pembelajaran, dan melakukan penilaian. Guru dituntut mampu memilih aplikasi yang tepat, membuat bahan ajar digital, serta mengelola kelas daring secara efektif. Hal ini menciptakan kesenjangan keterampilan (skill gap) yang serius. Tanpa pelatihan yang berkelanjutan, digitalisasi justru dapat menjadi beban tambahan bagi guru.

Selain itu, digitalisasi pembelajaran juga menghadirkan tantangan pada murid, terutama dalam hal kemandirian dan disiplin belajar. Pembelajaran berbasis teknologi menuntut murid untuk lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Namun, pada kenyataannya tidak semua murid memiliki kemampuan tersebut, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Pembelajaran mandiri menuntut motivasi instrinksik yang tinggi, sehingga murid sering kali kesulitan fokus, menunda tugas, atau “bolos” kelas daring. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol juga berpotensi menimbulkan distraksi, seperti bermain gim atau membuka media sosial saat pembelajaran berlangsung. Jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang baik, teknologi justru dapat mengurangi kualitas belajar.

Tantangan berikutnya adalah peran orang tua dalam pembelajaran digital. Dalam pembelajaran konvensional, sebagian besar tanggung jawab belajar berada di sekolah. Namun dalam pembelajaran digital, terutama pada jenjang dasar, keterlibatan orang tua menjadi sangat penting. Tidak semua orang tua memiliki waktu, kemampuan, atau pemahaman teknologi yang cukup untuk mendampingi anak. Kondisi ini sering menimbulkan kesenjangan hasil belajar antar murid, bukan karena kemampuan akademik, tetapi karena perbedaan dukungan di rumah.

Selain masalah teknis, digitalisasi pembelajaran juga menghadirkan tantangan dalam menjaga nilai-nilai pendidikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan keterampilan sosial. Interaksi langsung antara guru dan murid memiliki peran penting dalam proses tersebut. Jika pembelajaran terlalu bergantung pada teknologi, ada kekhawatiran berkurangnya kedekatan emosional, kerja sama, dan pembiasaan sikap yang biasanya terbentuk melalui interaksi tatap muka.

Selain itu, masalah Kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri. Kelelahan digital (efek menatap layar terlalu lama) dan isolasi sosial dapat meningkatkan stress dan burnout.

Meski demikian, tantangan bukan berarti alasan untuk menolak digitalisasi. Justru tantangan tersebut harus menjadi bahan refleksi agar transformasi pendidikan berjalan lebih realistis dan berkelanjutan. Digitalisasi pembelajaran perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan sekolah, guru, dan murid. Pemerintah perlu memastikan pemerataan infrastruktur, menyediakan pelatihan yang berkelanjutan, serta memberi ruang bagi guru untuk beradaptasi tanpa tekanan berlebihan.

Di sisi lain, guru juga perlu membangun sikap terbuka terhadap perubahan. Teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti guru, tetapi sebagai alat untuk memperkaya pembelajaran. Dengan pemanfaatan yang tepat, digitalisasi dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, kontekstual, sesuai kebutuhan murid, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi pembelajaran tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kesiapan manusia yang menggunakannya. Jika infrastruktur, kompetensi guru, dukungan orang tua, dan karakter murid dapat berjalan seimbang, maka digitalisasi akan menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih maju. Namun jika tantangan-tantangan tersebut diabaikan, digitalisasi berisiko menjadi sekadar program tanpa dampak nyata bagi peningkatan mutu pembelajaran.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post