Dr. Atikah Sari, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Kompetensi Kepribadian Guru Fondasi yang Terlupakan dalam Membangun Pendidikan Bermakna

T. 425

Di tengah derasnya tuntutan peningkatan kualitas pendidikan, perhatian publik kerap terfokus pada kompetensi pedagogik dan profesional guru. Padahal, ada satu aspek yang justru menjadi fondasi dari keseluruhan praktik pendidikan: kompetensi kepribadian. Tanpa kepribadian yang kuat, ilmu dan metode terbaik pun berisiko kehilangan makna.

Dalam regulasi pendidikan di Indonesia, kompetensi kepribadian guru ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Guru dituntut memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, serta menjadi teladan bagi murid. Artinya, guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga figur yang “hidupnya dibaca” oleh murid setiap hari.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kompetensi ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “alami” dan tidak perlu dikembangkan secara sistematis. Banyak program peningkatan kompetensi guru lebih menekankan pada pelatihan kurikulum, strategi pembelajaran, atau teknologi pendidikan, sementara penguatan karakter pribadi justru kurang mendapatkan ruang.

Padahal, berbagai hasil riset menunjukkan bahwa kualitas kepribadian guru memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan belajar murid. Studi dari OECD melalui laporan PISA (Programme for International Student Assessment) mengungkap bahwa hubungan positif antara guru dan murid menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan motivasi dan capaian belajar. Guru yang sabar, konsisten, dan berempati cenderung mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.

Lebih jauh, penelitian dalam bidang Psikologi Pendidikan juga menegaskan bahwa keteladanan guru memiliki dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter murid seperti perilaku, sikap disiplin, dan motivasi belajar. Murid tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi dari bagaimana guru bersikap—cara berbicara, mengelola emosi, hingga menghadapi konflik.

Di sinilah letak urgensi kompetensi kepribadian. Guru yang memiliki integritas tinggi akan menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Guru yang dewasa secara emosional mampu mengendalikan diri dalam situasi sulit, tidak mudah marah, dan mampu menyelesaikan masalah secara bijak. Sementara itu, guru yang berwibawa tidak harus ditakuti, tetapi dihormati karena sikapnya yang adil dan penuh empati.

Selain itu, kompetensi kepribadian guru sangat berpengaruh terhadap perilaku, disiplin, dan motivasi belajar murid.

Sayangnya, tantangan zaman semakin kompleks. Di era digital, guru tidak hanya menjadi teladan di ruang kelas, tetapi juga di ruang publik, termasuk media sosial. Banyak kasus yang menunjukkan bagaimana perilaku guru di luar kelas dapat memengaruhi citra profesi dan kepercayaan masyarakat. Ini menegaskan bahwa kompetensi kepribadian bukanlah sesuatu yang statis, melainkan harus terus dirawat dan diperbarui.

Pertanyaannya, bagaimana menguatkan kompetensi kepribadian guru secara nyata?

Pertama, perlu adanya integrasi pengembangan kepribadian dalam program pendidikan dan pelatihan guru. Refleksi diri, penguatan nilai-nilai etika profesi, serta pelatihan kecerdasan emosional harus menjadi bagian penting, bukan sekadar pelengkap.

Kedua, budaya sekolah harus mendukung tumbuhnya kepribadian positif. Lingkungan kerja yang sehat, kepemimpinan kepala sekolah yang inspiratif, serta hubungan kolegial yang harmonis akan membantu guru berkembang secara personal.

Ketiga, evaluasi kinerja guru sebaiknya tidak hanya berfokus pada aspek administratif dan akademik, tetapi juga mencakup dimensi kepribadian. Penilaian ini tentu harus dilakukan secara objektif dan konstruktif, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk pengembangan diri.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan manusia seutuhnya. Dalam proses ini, guru adalah aktor utama yang tidak hanya mengajar, tetapi juga “menjadi contoh hidup”. Oleh karena itu, memperkuat kompetensi kepribadian guru bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Jika kita ingin pendidikan yang bermakna dan berkarakter, maka jawabannya sederhana: mulai dari guru yang berkepribadian kuat. Karena sejatinya, murid mungkin lupa apa yang diajarkan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa siapa gurunya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post