Mengajar Tanpa Mengenal Murid Pendidikan atau Sekadar Rutinitas?
T. 428

Di tengah gencarnya upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, satu persoalan mendasar justru kerap terabaikan: sejauh mana guru benar-benar memahami karakteristik muridnya. Padahal, di balik setiap nilai rapor dan capaian akademik, terdapat individu dengan latar belakang, kemampuan, minat, serta kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Tanpa pemahaman itu, proses pendidikan berisiko berubah menjadi rutinitas mekanis—mengajar tanpa benar-benar memastikan murid belajar.
Persoalan ini bukan sekadar asumsi. Data Asesmen Nasional (AN) dan berbagai studi pendidikan menunjukkan bahwa capaian literasi dan numerasi murid Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Bahkan, jika dilihat lebih rinci berdasarkan jenjang pendidikan, pola yang muncul justru cukup mengkhawatirkan.
Pada jenjang sekolah dasar (SD), capaian literasi berada di kisaran 71,76% dan numerasi sekitar 69,51%. Angka ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga murid belum mencapai kompetensi minimum. Memasuki jenjang SMP, capaian tersebut relatif stagnan—literasi sekitar 70,34% dan numerasi 68,1%. Yang lebih mengkhawatirkan, pada jenjang SMA justru terjadi penurunan, dengan literasi sekitar 64,83% dan numerasi 63,71%.
Jika diterjemahkan secara sederhana, data ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar proporsi murid yang belum mencapai kompetensi dasar. Ini bukan sekadar persoalan akademik, tetapi sinyal adanya masalah sistemik dalam proses pembelajaran.
Pertanyaannya: apakah ini semata-mata karena kemampuan murid? Ataukah ada yang keliru dalam cara kita mengajar?
Jawabannya cenderung mengarah pada yang kedua. Banyak praktik pembelajaran di kelas masih bersifat seragam, seolah-olah semua murid memiliki kemampuan, minat, dan cara belajar yang sama. Guru menyampaikan materi dengan metode yang sama kepada seluruh kelas, tanpa mempertimbangkan perbedaan individu. Dalam situasi seperti ini, hanya sebagian murid yang benar-benar terfasilitasi, sementara yang lain tertinggal secara perlahan.
Padahal, berbagai regulasi pendidikan terbaru telah secara tegas mengarahkan perubahan paradigma tersebut. Dalam Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022, ditegaskan bahwa pembelajaran harus dirancang secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan berpusat pada peserta didik. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga memperhatikan karakteristik, kebutuhan, serta perbedaan kemampuan murid.
Kebijakan ini diperkuat melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 yang menegaskan implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini memberi ruang fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan tahap perkembangan murid, termasuk melalui pendekatan diferensiasi. Artinya, negara sebenarnya telah memberikan kerangka yang jelas: pendidikan harus dimulai dari pemahaman terhadap murid.
Tidak hanya itu, perubahan juga terlihat dalam sistem evaluasi. Melalui Permendikbudristek Nomor 17 Tahun 2021, penilaian pendidikan tidak lagi berfokus pada hasil akhir semata, tetapi juga pada proses pembelajaran. Asesmen Nasional mengukur literasi, numerasi, karakter, serta lingkungan belajar—indikator yang sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara guru dan murid.
Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan kini tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak materi yang diajarkan, tetapi oleh seberapa efektif pembelajaran tersebut menjangkau kebutuhan murid.
Namun, di sinilah letak tantangannya. Meskipun regulasi sudah jelas, implementasinya di lapangan belum sepenuhnya berjalan optimal. Banyak guru masih terjebak pada pola lama: mengejar ketuntasan materi, menggunakan metode satu arah, dan belum melakukan pemetaan karakteristik murid secara sistematis. Akibatnya, pembelajaran tetap berlangsung, tetapi tidak selalu bermakna.
Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik murid juga berpotensi memunculkan praktik pelabelan yang tidak tepat. Murid yang aktif dianggap “nakal”, yang pendiam dianggap “tidak mampu”, dan yang lambat memahami dianggap “lemah”. Padahal, bisa jadi mereka hanya membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ketika perbedaan ini tidak dipahami, maka potensi murid justru terabaikan.
Sebaliknya, ketika guru benar-benar memahami muridnya, pembelajaran akan berubah secara signifikan. Guru dapat menyesuaikan strategi mengajar berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar. Murid yang sebelumnya pasif bisa menjadi lebih terlibat, sementara yang sudah maju tetap mendapatkan tantangan yang sesuai.
Inilah esensi dari pembelajaran yang berpusat pada murid—bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata yang berdampak langsung pada kualitas belajar.
Lebih jauh lagi, pemahaman terhadap karakteristik murid juga menjadi kunci dalam mengurangi kesenjangan hasil belajar. Data Asesmen Nasional menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan capaian murid secara signifikan, termasuk bagi mereka yang berasal dari latar belakang kurang beruntung. Ini membuktikan bahwa ketika pendekatan tepat, semua murid memiliki peluang untuk berkembang.
Oleh karena itu, perubahan yang dibutuhkan sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Kita tidak kekurangan kurikulum, tidak kekurangan regulasi, dan tidak kekurangan instrumen evaluasi. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang—dari mengajar materi menjadi memahami murid.
Guru tidak lagi cukup bertanya, “Apa yang harus diajarkan hari ini?” tetapi perlu mulai bertanya, “Siapa murid saya, dan bagaimana mereka belajar?” Pertanyaan sederhana ini memiliki dampak yang sangat besar, karena menjadi dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat.
Pada akhirnya, pendidikan yang bermakna tidak diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi dari seberapa banyak murid yang benar-benar memahami dan mampu menggunakannya dalam kehidupan nyata. Dan itu hanya bisa terjadi jika guru mengenal muridnya secara utuh.
Jika tidak, maka kita hanya akan terus mengulang rutinitas yang sama: mengajar setiap hari, tetapi tidak benar-benar mendidik.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan