Dr. Atikah Sari, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sudahkah Kita Benar-Benar Berbicara dengan Murid? Refleksi Komunikasi Guru di Kelas

T. 435

Selama ini, komunikasi guru sering dianggap sebagai keterampilan pelengkap dalam pembelajaran. Padahal, jika menilik berbagai hasil riset, justru di sanalah letak salah satu penentu utama keberhasilan belajar murid. Guru yang menguasai materi belum tentu berhasil mengajar, tetapi guru yang mampu berkomunikasi dengan baik hampir selalu mampu membuat pembelajaran menjadi bermakna.

Berbagai penelitian di tingkat kelas telah menunjukkan bahwa komunikasi guru berpengaruh signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Namun, ketika kita melihat data yang lebih luas, gambaran ini menjadi semakin jelas dan mendesak.

Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota. Pada siklus terbaru (2022), skor literasi membaca Indonesia berada di kisaran 359, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di sekitar 476. Kesenjangan ini tidak hanya menunjukkan persoalan kemampuan membaca, tetapi juga mencerminkan lemahnya proses pemahaman, interpretasi, dan komunikasi dalam pembelajaran.

PISA sendiri menekankan bahwa keberhasilan literasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa, tetapi juga oleh kualitas interaksi pembelajaran di kelas, termasuk bagaimana guru menjelaskan, memberi umpan balik, dan membangun dialog. Dengan kata lain, komunikasi guru memiliki kontribusi langsung terhadap kemampuan literasi siswa.

Di tingkat nasional, hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) juga menunjukkan tantangan serupa. Data AKM beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa Indonesia masih berada pada level dasar hingga menengah dalam literasi membaca dan numerasi. Salah satu faktor yang disorot dalam berbagai analisis adalah kurangnya praktik pembelajaran yang interaktif dan komunikatif. Pembelajaran yang masih didominasi ceramah satu arah membuat siswa kurang terlatih untuk berpikir kritis, bertanya, dan mengungkapkan pendapat.

Lebih jauh, laporan dari UNESCO menegaskan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam membangun komunikasi yang inklusif, dialogis, dan berpusat pada peserta didik. UNESCO menyoroti bahwa guru yang efektif adalah mereka yang mampu menciptakan interaksi dua arah, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta membangun hubungan emosional yang positif dengan siswa. Dalam kerangka Education 2030, komunikasi bahkan ditempatkan sebagai bagian dari kompetensi inti guru abad ke-21.

Jika ketiga sumber ini—PISA, AKM, dan UNESCO—ditarik dalam satu benang merah, tampak jelas bahwa persoalan pendidikan bukan semata pada kurikulum atau fasilitas, melainkan juga pada kualitas komunikasi di ruang kelas.

Di sinilah pertanyaan reflektif itu menjadi penting: sudahkah guru benar-benar berkomunikasi, atau sekadar berbicara? Apakah murid benar-benar memahami, atau hanya diam karena terbiasa tidak didengar?

Realitas di lapangan masih menunjukkan dominasi komunikasi satu arah. Guru berbicara, siswa mendengar. Guru menjelaskan, siswa mencatat. Dalam situasi seperti ini, siswa menjadi pasif, kurang percaya diri, dan tidak terbiasa mengemukakan gagasan. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan literasi mereka tidak berkembang secara optimal.

Sebaliknya, komunikasi yang efektif menghadirkan suasana belajar yang hidup. Guru membuka ruang dialog, mengajukan pertanyaan terbuka, serta memberi kesempatan siswa untuk berpikir dan berpendapat. Hal ini akan membuat murid merasa dihargai, dipahami perasaan mereka, merasa dimengerti dan merasa diterima. Dalam suasana seperti ini, siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar mengomunikasikan ide.

Komunikasi yang efektif juga menuntut empati. Guru perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda. Oleh karena itu, cara berkomunikasi tidak bisa disamaratakan. Guru yang adaptif akan lebih mudah menjangkau siswa yang beragam, termasuk mereka yang cenderung pasif atau mengalami kesulitan belajar.

Komunikasi di kelas, melibatkan bahasa yang santun, tidak memberikan label yang negatif, tidak menggunakan pemaksaan atau ancaman terutama dalam mewujudkan disiplin. Penggunaan bahasa non verbal hendaknya juga dilakukan. Penggunaan bahasa tubuh yang positif dan aktif mendengarkan sangat diperlukan. Kontak mata, tersenyum, ekspresi wajah yang ramah, menepuk bahu, dan menghindari kesalahpahaman. Hal ini

Pada akhirnya, komunikasi guru yang efektif adalah tentang menghadirkan pembelajaran yang manusiawi. Data dari PISA, AKM, dan UNESCO telah memberi pesan yang tegas: kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi oleh bagaimana guru hadir, mendengar, dan memahami.

Maka, mungkin yang perlu kita renungkan bukan lagi “apa yang sudah diajarkan hari ini”, melainkan: “apakah hari ini murid benar-benar merasa didengar?”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post