Riuh Pagi, Hangat Malam di Ujung Ramadan
#Tagur 971/1711
Riuh Pagi, Hangat Malam di Ujung Ramadan
Pagi ini terasa berbeda. Sejak matahari belum tinggi, kami sudah sibuk bersiap untuk acara malam di musala keluarga. Ada semangat yang berdenyut di setiap sudut rumah, dari dapur hingga halaman. Yang paling seru, tentu saja saat “perburuan” ikan dimulai. Kami saling berebut memilih ikan terbaik untuk hidangan nanti malam. Tawa pecah di sela-sela kesibukan, seolah lelah tak sempat singgah. Momen sederhana ini justru menjadi bumbu kebahagiaan yang sulit tergantikan.
Kami pun bergegas menuju pasar kecil di perum PAP. Suasananya tak seramai biasanya. Banyak yang sudah mudik, meninggalkan lapak-lapak yang sebagian tutup. Penjual yang tersisa pun tak banyak, namun syukurlah, kebutuhan kami masih tersedia. Ada rasa haru melihat kesederhanaan itu, di tengah keterbatasan, tetap ada kecukupan. Seolah Ramadan mengajarkan bahwa yang penting bukan seberapa banyak, tetapi seberapa cukup dan penuh syukur.
Menjelang akhir Ramadan, hari-hari terasa semakin berwarna. Ada riuh persiapan, ada harap yang menguat, juga ada rindu yang perlahan tumbuh. Rindu pada suasana yang sebentar lagi akan berlalu. Di balik kesibukan pagi ini, tersimpan makna tentang kebersamaan, tentang berbagi peran, dan tentang menjaga hangatnya keluarga. Ramadan memang hampir usai, tapi jejak kehangatannya semoga tetap tinggal di hati.
Gemurung_18 Maret 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan