Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (10) Aroma Kopi, dan Tugas yang Tertunda

#Tagur 1098/1838

Cerita Anak Kamus: (10) Aroma Kopi, dan Tugas yang Tertunda

Mesin espresso itu kembali mendesis.

Pssst... crrr... tukk...

Suara uap panasnya seperti sedang berlomba dengan dentingan cangkir dan obrolan pengunjung yang saling bertabrakan di udara. Di sudut kafe, pendingin ruangan bekerja tanpa lelah. Udaranya begitu dingin hingga beberapa orang mengenakan jaket tipis.

Namun kepala Arga justru terasa panas.

Laptopnya terbuka sejak hampir satu jam lalu. Di layar hanya ada judul tugas:

"Analisis Dampak Transformasi Digital terhadap..."

Lalu berhenti.

Kursor berkedip pelan.

Seolah mengejek.

"Ketiklah kalau memang niat kuliah."

Arga mengembuskan napas panjang. Ia meraih cangkir kopi yang kini mulai kehilangan uapnya.

"Aku ke sini mau nugas atau cuma pindah rebahan?" gumamnya pelan.

Belum sempat membuka file referensi, ponselnya bergetar.

Satu notifikasi.

Lalu dua.

Lalu sepuluh.

Media sosial seperti memiliki kekuatan gaib yang selalu tahu kapan seseorang sedang berniat produktif.

"Cuma lima menit," pikirnya.

Lima menit itu berubah menjadi video kucing memakai helm, berita transfer pemain bola, diskon sepatu, meme mahasiswa akhir bulan, sampai video seseorang yang berhasil lulus sidang dalam waktu dua puluh menit.

Arga tersadar ketika layar ponselnya menunjukkan angka tiga puluh enam menit.

Ia menepuk dahinya sendiri.

"Hebat. Tugas belum jalan, algoritma sudah lulus cumlaude."

Ia buru-buru membalikkan ponselnya.

Fokus.

Harus fokus.

Namun dunia rupanya sedang bersekongkol menguji tekadnya.

Di meja sebelah, sepasang mahasiswa tampak asyik berdiskusi.

"Aku yakin jawabannya begini..."

"Bukan, coba lihat jurnal ini."

Arga sempat melirik.

Lalu melirik lagi.

Lima menit kemudian ia sadar bahwa ia bahkan tidak mengenal mereka, tetapi sudah mengikuti alur diskusi mereka lebih serius daripada tugasnya sendiri.

Belum selesai dengan rasa penasaran itu, seorang barista menjatuhkan sendok stainless.

Ting... clang...!

Seluruh kepala di kafe spontan menoleh.

Termasuk Arga.

Ia kembali menatap layar laptop.

Kosong.

Masih kosong.

Di luar jendela, hujan tipis mulai turun. Butiran air menempel di kaca, membentuk garis-garis kecil yang perlahan meluncur ke bawah. Aroma kopi yang memenuhi ruangan bercampur dengan bau tanah basah yang terbawa angin setiap kali pintu kafe terbuka.

Entah mengapa, suasana itu terasa puitis.

Terlalu puitis.

Sampai-sampai Arga lebih sibuk menyusun kalimat indah di kepalanya daripada menyusun isi makalah.

"Kadang yang paling sulit bukan memahami materi kuliah, melainkan menaklukkan diri sendiri."

Kalimat itu tiba-tiba muncul begitu saja.

Ia terdiam.

Mungkin benar.

Musuh terbesar mahasiswa bukan selalu dosen yang memberi deadline mendadak.

Bukan pula tugas yang menumpuk.

Melainkan distraksi yang datang dengan wajah ramah, menawarkan hiburan sesaat, lalu diam-diam mencuri berjam-jam waktu.

Arga menarik napas panjang.

Ia mematikan koneksi internet di ponselnya.

Membalikkan perangkat itu hingga layarnya menghadap meja.

Kemudian membuka jurnal pertama.

Satu paragraf selesai.

Lalu paragraf kedua.

Tak lama kemudian, suara mesin espresso kembali mendesis.

Kali ini Arga tidak menoleh.

Untuk pertama kalinya sore itu, suara paling nyaring bukan lagi mesin kopi, bukan obrolan pengunjung, dan bukan notifikasi media sosial.

Melainkan bunyi jemarinya sendiri yang menari di atas keyboard.

Tuk... tuk... tuk...

Irama sederhana.

Tetapi jauh lebih indah daripada semua distraksi yang tadi sempat memanggilnya.

Tanpa disadari, senja mulai turun. Dan bersama setiap kalimat yang berhasil ia tulis, Arga merasa sedang menyeduh sesuatu yang lebih berharga daripada secangkir kopi. Ia sedang menyeduh masa depannya sendiri.

Gemurung_25 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post