Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (11) Satu Menit yang Mengubah Semester

#Tagur 1099/1839

Cerita Anak Kampus: (11) Satu Menit yang .Mengubah Semester

"Tenang, masih besok."

Kalimat itu keluar begitu ringan dari mulut Dimas sambil meletakkan ponselnya di atas meja kafe.

Laptop memang terbuka, tetapi yang memenuhi layar bukan jurnal, melainkan pertandingan sepak bola, video lucu, dan obrolan grup kampus yang tak ada habisnya.

"Ayo, satu ronde lagi game ini," ajak Reno.

"Lima belas menit saja."

Lima belas menit berubah menjadi satu jam.

Satu jam berubah menjadi sore.

Tak ada yang terasa salah. Mereka tertawa, bercanda, memesan kopi kedua, bahkan sempat berfoto untuk diunggah ke media sosial dengan caption, Healing dulu, biar tugas selesai sendiri.

Like berdatangan.

Komentar berdatangan.

Yang tidak datang hanyalah halaman pertama tugas mereka.

Malam harinya, Dimas baru membuka laptop di kamar kos.

Ia menguap.

"Masih banyak waktu."

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Grup kelas mendadak ramai.

"Deadline dimajukan!"

"Cek LMS sekarang!"

Jantungnya langsung berdebar.

Ia membuka pengumuman.

Batas pengumpulan tugas pukul 21.00 malam ini. Sistem akan otomatis ditutup.

Jam di dinding menunjukkan pukul 20.42.

Delapan belas menit.

Wajah Dimas memucat.

Ia mengetik secepat mungkin. Tangan kirinya membuka jurnal, tangan kanannya menyusun paragraf. Keringat membasahi pelipis.

Belum pernah delapan belas menit terasa sependek itu.

Pukul 20.58.

Tugas selesai.

Ia mengembuskan napas lega.

Klik.

Upload.

Layar berputar.

Loading...

Loading...

Loading...

Persentasenya bergerak lambat, seolah mengejek kepanikannya 97%...98%....

Jam berubah menjadi 21.00.

Layar tiba-tiba berganti.

Submission Failed. Assignment Closed.

Dimas terdiam.

Ia menekan tombol itu lagi.

Tidak bisa.

Refresh.

Tetap tidak bisa.

Ia mengirim pesan kepada dosen.

Tidak dibalas.

Ia menghubungi teman-temannya.

Sebagian berhasil mengumpulkan.

Sebagian mengalami nasib yang sama.

Malam itu kamar kos terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Tak ada lagi tawa seperti sore tadi.

Yang terdengar hanya suara kipas angin tua dan desah napas penuh penyesalan.

Keesokan harinya, dosen memasuki kelas.

Tanpa marah.

Tanpa meninggikan suara.

Beliau hanya berkata pelan,

"Di dunia kerja, keterlambatan satu menit bisa membuat perusahaan kehilangan miliaran rupiah. Di rumah sakit, satu menit bisa menentukan hidup seseorang. Di kampus, mungkin hanya nilai yang hilang. Tetapi jika kebiasaan menunda terus dipelihara, yang hilang kelak adalah kepercayaan."

Kelas mendadak sunyi.

Dimas menundukkan kepala.

Ia sadar, yang gagal semalam bukan hanya unggahan tugasnya.

Melainkan disiplin yang selama ini selalu ia tunda untuk dibangun.

Beberapa bulan kemudian, sebuah perusahaan besar membuka program magang.

Syaratnya sederhana.

IPK minimal sesuai ketentuan.

Dimas tidak memenuhi syarat.

Nilai mata kuliah yang dulu gagal karena tugas terlambat membuat IPK-nya terpaut tipis dari batas yang ditentukan.

Ia hanya bisa melihat teman-temannya berangkat mengikuti seleksi.

Saat itu ia teringat sore di kafe.

Secangkir kopi.

Game yang katanya hanya lima belas menit.

Dan sebuah tugas yang dianggap masih punya banyak waktu.

Ternyata, hidup jarang menghukum kita saat melakukan kesalahan.

Hidup membiarkan kita merasa semuanya baik-baik saja...

lalu memperlihatkan akibatnya ketika kesempatan datang.

Sejak hari itu, Dimas selalu datang lebih awal, mengerjakan tugas segera setelah diberikan, dan menutup media sosial setiap kali mulai belajar.

Ia akhirnya lulus dengan hasil yang baik.

Namun satu pelajaran tidak pernah hilang dari ingatannya.

Waktu tidak pernah memihak kepada siapa pun. Ia hanya terus berjalan. Dan mereka yang menyia-nyiakannya akan tertinggal, bukan karena waktu terlalu cepat, melainkan karena mereka terlalu banyak menunda.

Gemurung_26 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post