Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (4) Kosan Jam Dua Pagi

#Tagur 1089/1829

Cerita Anak Kampus: (4) Kosan Jam Dua Pagi

"Tok... tok... tok..."

Nara membuka mata.

Ia melirik layar ponselnya. 02.03 WIB.

Suara itu terdengar lagi.

"Tok... tok... tok..."

Pelan.

Teratur.

Seolah ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

Nara menahan napas. Ia baru tiga minggu tinggal di kos itu. Bangunannya memang sudah tua, tetapi pemiliknya ramah dan harga sewanya murah. Sangat murah, sampai teman-temannya sempat bercanda.

"Hati-hati, yang murah biasanya ada bonusnya."

Nara hanya tertawa waktu itu.

Kini, lelucon itu tiba-tiba teringat.

Ia memberanikan diri mengintip dari lubang pintu.

Kosong.

Lorong panjang hanya diterangi lampu kuning yang redup.

Tak ada siapa-siapa.

"Ah... paling angin."

Ia kembali ke tempat tidur.

Baru saja matanya terpejam.

"Tok... tok... tok..."

Kali ini lebih jelas.

Bulu kuduknya berdiri.

Pagi harinya, Nara menceritakan kejadian itu kepada penghuni kamar sebelah.

Maya justru tertawa.

"Tenang. Semua penghuni baru pasti ngalamin."

"Maksudnya?"

"Jam dua pagi itu memang sering ada suara aneh."

Nara langsung menelan ludah.

"Serius?"

"Iya..."

Maya sengaja berhenti bicara.

Nara makin penasaran.

"Lanjut dong!"

"...suara anak-anak lembur ngerjain tugas."

Nara melotot.

Maya tertawa sampai hampir tersedak.

"Kirain apa."

"Tunggu aja malam ini."

Malam berikutnya, suasana kos benar-benar sunyi.

Jam menunjukkan pukul dua kurang lima menit.

Nara belum tidur.

Ia sengaja menunggu.

Tepat pukul dua.

"Cetak... cetak... cetak..."

Bukan suara ketukan.

Melainkan suara keyboard yang dipencet bertubi-tubi.

Disusul suara printer.

Lalu seseorang berlari di lorong.

"Eh... staplermu mana?"

"Siapa yang punya lem?"

"Wi-Fi lemot lagi!"

"Astaga... deadline jam tujuh!"

Nara membuka pintu perlahan.

Lorong yang tadi sunyi kini berubah seperti ruang kerja darurat.

Ada yang duduk di lantai sambil mengedit presentasi.

Ada yang membawa laptop ke dapur karena sinyal lebih bagus.

Ada yang video call dengan anggota kelompok sambil menahan kantuk.

Di ujung lorong, dua mahasiswa teknik sedang berdebat soal desain.

Mahasiswa hukum sibuk membaca pasal.

Anak desain mencetak poster.

Mahasiswa pendidikan sedang merekam video praktik mengajar menggunakan sapu sebagai tripod.

Yang paling lucu, penghuni kamar nomor tujuh sedang menyetrika kemeja sambil menghafal materi presentasi.

"Kalau besok dosennya nggak datang, aku pensiun jadi mahasiswa."

Semua tertawa.

Nara ikut tersenyum.

Ternyata inilah "penghuni jam dua pagi" yang sering dibicarakan.

Sejak malam itu, Nara justru menjadi bagian dari mereka.

Sesekali ia meminjam charger.

Kadang membantu mengecek ejaan makalah teman.

Pernah juga memasakkan mi instan untuk satu lorong ketika semua kelaparan menjelang subuh.

Aneh memang.

Siang hari, penghuni kos saling lewat begitu saja.

Ada yang buru-buru ke kampus, ada yang langsung masuk kamar.

Namun, setiap jam dua pagi menjelang deadline, mereka berubah menjadi keluarga.

Saling meminjam printer.

Berbagi kopi.

Menguatkan yang hampir menyerah.

Bahkan saling mengingatkan salat Subuh setelah begadang semalaman.

Beberapa bulan kemudian, Nara baru tahu cerita sebenarnya.

Suara "tok... tok... tok..." yang dulu membuatnya ketakutan ternyata berasal dari pintu kamar penghuni lama yang selalu berkeliling membangunkan teman-temannya saat ada tugas kelompok atau jadwal presentasi pagi.

Tradisi itu tidak pernah hilang.

Bukan untuk menakut-nakuti.

Melainkan untuk memastikan tak ada satu pun teman kos yang terlambat menghadapi hari pentingnya.

Sejak saat itu, setiap mendengar ketukan pintu pukul dua pagi, Nara tidak lagi merasa ngeri.

Ia justru tersenyum.

Karena di kos itu, jam dua pagi bukan waktunya hantu berkeliaran.

Melainkan waktunya mimpi-mimpi besar sedang diperjuangkan, ditemani kopi, mi instan, dan teman-teman yang diam-diam sudah seperti keluarga sendiri.

Gemurung_17 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post