Cerita Anak Kampus (5) Chat dari Ibu
#Tagur 1091/1831
Cerita Anak Kampus: (5) Chat dari Ibu
Ponsel Aldi bergetar tepat saat dosen mulai menjelaskan materi.
Layar ponselnya menyala.
Ibu (emoji love)
Ia buru-buru membalikkan ponsel.
"Nanti saja," gumamnya.
Lima menit kemudian ponsel bergetar lagi.
Masih dari Ibu.
Aldi mulai gelisah.
Ibunya hampir tidak pernah menghubunginya saat jam kuliah. Kalau sampai dua kali menelepon, pasti ada sesuatu (pikiran Aldi mulai bercabang).
Begitu kelas selesai, ia langsung membuka WhatsApp.
Ibu: Nak, kalau sudah selesai kuliah, telepon Ibu ya.
Hanya satu kalimat.
Tidak ada emoji.
Tidak ada stiker.
Tidak ada kata "jangan khawatir."
Jantung Aldi tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Pikirannya langsung ke mana-mana.
"Apa Ayah sakit?"
"Adik kenapa?"
"Rumah kebanjiran?"
Sepanjang perjalanan pulang ke kos, kepalanya dipenuhi dugaan yang semakin liar.
Sesampainya di kamar, ia langsung menelepon.
"Halo, Bu..."
Suara di seberang terdengar pelan.
"Nak... lagi sibuk?"
"Nggak, Bu. Ada apa?"
"Eng... nggak jadi."
"Lho?"
"Ibu cuma... mau dengar suara kamu."
Aldi mengembuskan napas lega.
"Bu... bikin kaget saja."
Ibu tertawa kecil.
"Maaf."
Percakapan berlanjut seperti biasa.
Menanyakan makan.
Kuliah.
Cuaca.
Sampai akhirnya telepon ditutup.
Aldi tersenyum sendiri.
"Ternyata cuma itu."
Namun, belum sempat ia meletakkan ponsel, masuk satu chat lagi.
Ibu: Nak... kalau bulan ini uangnya telat sedikit nggak apa-apa ya? Ayah belum dapat proyek.
Senyumnya langsung hilang.
Ia membaca pesan itu berkali-kali.
Dari balik jendela kos, hujan mulai turun.
Baru kali ini Aldi sadar.
Selama ini ia selalu mengira uang kuliah datang begitu saja.
Padahal, di rumah, kedua orang tuanya sedang berjuang agar rekeningnya tetap terisi.
Ia membalas cepat.
Nggak apa-apa, Bu. Aldi masih ada tabungan.
Bohong.
Isi rekeningnya tinggal seratus dua puluh ribu rupiah.
Malam itu ia memutuskan membuka aplikasi pencari kerja paruh waktu.
Besoknya, sepulang kuliah, ia diterima menjaga sebuah kedai kopi kecil.
Jam kerjanya mulai pukul lima sore sampai sepuluh malam.
Capek?
Jelas.
Kadang ia mengerjakan tugas sambil mengelap meja.
Kadang mengantuk saat kuliah pagi.
Tetapi setiap kali hampir menyerah, ia teringat chat dari ibunya.
"Ayah belum dapat proyek."
Kalimat itu seperti terus terngiang.
Sebulan kemudian, Aldi menerima gaji pertamanya.
Tidak banyak.
Tetapi cukup membuatnya tersenyum.
Ia membuka aplikasi mobile banking.
Nominalnya tidak besar.
Lima ratus ribu rupiah.
Semua ditransfer ke rekening ibunya.
Tak sampai lima menit, ponselnya berbunyi.
Ibu: Lho, Nak... salah kirim ya?
Aldi tertawa.
Nggak, Bu. Buat beli beras sama telur.
Beberapa menit kemudian muncul notifikasi baru.
Bukan chat.
Video call.
Wajah ibunya memenuhi layar.
Matanya sembab.
"Kamu nggak usah kirim uang, Nak."
"Ibu yang harusnya ngirim ke kamu."
Aldi tersenyum.
"Sesekali gantian, Bu."
Ibu mengusap air mata sambil tertawa.
"Anak Ibu sudah besar, ya."
"Belum, Bu."
"Lho?"
"Kalau pulang nanti, tetap minta dibikinin sambal terasi."
Mereka tertawa bersamaan.
Suasana yang tadi mengharukan berubah hangat.
Di akhir percakapan, Ibu berkata pelan,
"Nak..."
"Iya, Bu?"
"Kalau capek, cerita ya. Jangan dipendam sendiri."
Aldi mengangguk.
Padahal ia tahu, justru ibunyalah yang selama ini paling pandai menyembunyikan lelah.
Sejak hari itu, setiap ada notifikasi bertuliskan Ibu, Aldi tidak pernah lagi menundanya.
Karena ia sadar, bagi seorang ibu, mengirim chat bukan sekadar bertanya, "Sudah makan?"
Di balik kalimat sederhana itu, selalu ada doa yang tak pernah putus, rindu yang tak pernah habis, dan cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Gemurung_18 Juli 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan