Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (7) Siang Kuliah Malam Kerja

#Tagur 1093/1833

Cerita Anak Kampus: (7) Siang kuliah Malam Kerja

"Mas, es kopi gula aren!"

"Siap."

Rian tersenyum sambil meracik minuman.

Jam menunjukkan pukul 21.47.

Di luar, kota masih ramai. Di dalam kafe, antrean justru semakin panjang.

Tak ada yang tahu kalau barista yang melayani mereka pagi tadi duduk di bangku kuliah, siangnya presentasi di depan dosen, dan malamnya berdiri hampir lima jam tanpa sempat duduk.

Seorang pelanggan bertanya sambil bercanda.

"Mas, kuliah nggak?"

Rian tersenyum.

"Masih."

"Wah... hebat ya."

Ia hanya mengangguk.

Padahal, dalam hati ia ingin menjawab,

"Bukan hebat. Terpaksa."

Pukul sebelas malam.

Rian baru sampai kos.

Belum sempat rebahan, grup kelas sudah ramai.

Besok presentasi dimajukan ke jam pertama.

Rian memejamkan mata.

"Ya Allah..."

Laptop kembali dibuka.

Slide masih berantakan.

Ia menyelesaikannya sambil melawan kantuk.

Ketika azan Subuh berkumandang, ia baru mematikan laptop.

Tidurnya hanya satu jam.

Di kelas, matanya beberapa kali hampir terpejam.

Dosen memperhatikan.

"Rian."

"Iya, Pak."

"Begadang lagi?"

Seluruh kelas menoleh.

Rian hanya tersenyum kikuk.

"Sedikit."

Dosen tidak berkata apa-apa.

Kuliah berlanjut.

Namun, sejak hari itu Rian merasa beberapa teman mulai memandangnya berbeda.

Ada yang berbisik,

"Pantesan sering ngantuk."

"Aku kira dia malas."

Ada juga yang mulai memahami.

Suatu malam, hujan turun sangat deras.

Kafe mendadak penuh.

Rian berlari ke sana kemari membawa pesanan.

Saat hendak mengantar minuman, seorang pelanggan tidak sengaja menyenggolnya.

Bruk!

Empat gelas kopi jatuh bersamaan.

Suasana langsung hening.

Manajer datang.

"Rian..."

"Maaf, Mas..."

"Empat minuman."

"Iya."

"Tahu kan aturannya?"

Rian mengangguk.

Harga empat gelas kopi itu hampir sama dengan upahnya dua hari bekerja.

Dadanya sesak.

Malam itu ia pulang dengan langkah berat.

Di kamar kos ia hanya menatap langit-langit.

"Besok gimana, ya..."

Esok paginya, telepon dari kampus masuk.

"Selamat pagi. Bisa datang ke ruang dekan siang ini?"

Jantungnya langsung berdegup.

"Ada apa ya, Bu?"

"Nanti saja."

Selesai.

Telepon ditutup.

Rian panik.

"Jangan-jangan karena nilai turun."

"Atau ketahuan sering terlambat."

"Atau..."

Sepanjang kuliah ia tak bisa fokus.

Siang itu ia masuk ke ruang dekan dengan perasaan campur aduk.

Di dalam sudah ada beberapa dosen.

Salah satunya dosen yang pernah melihatnya mengantuk di kelas.

"Silakan duduk, Rian."

Ia duduk perlahan.

Dekan tersenyum.

"Kami sering melihat kamu datang paling pagi."

Rian bingung.

"Kami juga tahu kamu bekerja setiap malam."

Ia semakin bingung.

"Kamu tidak pernah menjadikan keadaan sebagai alasan."

Rian menunduk.

Dekan kemudian menyerahkan sebuah map.

"Ini untukmu."

"Apa ini, Pak?"

"Beasiswa."

Rian terdiam.

"Bukan karena kamu paling pintar."

Air matanya mulai menggenang.

"Tapi karena kamu tidak berhenti berjuang."

Ruangan mendadak sunyi.

Selama ini ia mengira tak seorang pun memperhatikan hidupnya.

Ternyata, ada banyak mata yang diam-diam melihat usahanya.

Keluar dari ruang dekan, ia langsung membuka ponsel.

Pesan pertama dikirim kepada ibunya.

Bu... mulai semester depan Ibu nggak usah pusing bayar kuliah lagi.

Tak sampai semenit, balasan masuk.

Ibu tahu kamu pasti menemukan jalan. Ibu selalu percaya.

Rian tersenyum sambil mengusap matanya.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama ini ia bekerja keras agar tetap bisa kuliah.

Padahal tanpa ia sadari, kerja keras itulah yang akhirnya membuka pintu yang tidak pernah ia bayangkan.

Kadang, hidup memang lucu.

Yang kita anggap sebagai beban, justru menjadi alasan datangnya kesempatan.

Dan malam-malam panjang yang penuh lelah itu, ternyata bukan sedang menghabiskan masa muda.

Melainkan sedang membangun masa depan.

Gemurung_20 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post