Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (8) Wifi Tetangga Lebih Setia

#Tagur 1094/1834

Cerita Anak Kampus: (8) Wifi Tetangga Lebih setia

Nama kos itu Kos Melati.

Ironisnya, sinyal internet di dalam kamar lebih sering menghilang daripada mantan yang bilang, "Kita temenan aja, ya."

Penghuninya sudah hafal.

Kalau mau sinyal penuh, berdirilah di dekat jendela kamar mandi.

Kalau mau lebih cepat, naik ke tangga darurat.

Kalau benar-benar butuh internet ngebut...

...duduklah di depan kamar nomor tujuh.

Di situlah sinyal "ajaib" muncul.

Bukan karena ada pemancar.

Tetapi karena WiFi rumah sebelah menembus tembok dengan sangat baik.

Password-nya?

Tidak ada yang tahu.

Yang mereka manfaatkan hanyalah jaringan tamu yang entah mengapa tidak pernah dikunci.

Suatu malam, Aldo sedang berpacu dengan waktu.

Deadline tinggal tiga puluh menit.

File presentasi belum selesai.

Internet kos mati total.

"Astaga... jangan sekarang!"

Ia mencoba hotspot.

Kuota habis.

Temannya juga sama.

"Lho, kok sama?"

"Iya... tadi buat nonton bola."

"Ya ampun!"

Tanpa aba-aba, lima penghuni kos berlarian keluar membawa laptop.

Pemandangan yang sangat aneh.

Ada yang masih memakai sarung.

Ada yang memakai helm karena rambutnya belum keramas.

Ada yang membawa charger sepanjang tiga meter.

Mereka berhenti di depan pagar rumah sebelah.

Laptop dibuka.

Semua langsung tersenyum.

"Nyambung!"

"Alhamdulillah!"

"WiFi tetangga memang paling setia."

Belum lima menit mengetik...

Pintu rumah sebelah tiba-tiba terbuka.

Creeek...

Semua membeku.

Seorang bapak berusia sekitar enam puluh tahun keluar sambil membawa senter.

"Astaghfirullah..."

Aldo menelan ludah.

"Selesai sudah hidupku."

Temannya mulai menutup laptop pelan-pelan.

Ada yang pura-pura melihat langit.

Ada yang mendadak tertarik mengamati pot bunga.

Bapak itu mendekat.

"Malam-malam ngapain, Nak?"

Tak ada yang berani menjawab.

Akhirnya Aldo angkat tangan.

"Maaf, Pak..."

"Iya?"

"Kami... numpang internet."

Suasana hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lima belas detik.

Lalu...

Bapak itu tertawa sampai batuk.

"Hahaha... pantesan."

Semua saling pandang.

"Pantesan tiap malam ada anak-anak nongkrong di depan rumah."

Mereka hanya bisa nyengir.

"Kalau memang buat kuliah, kenapa nggak bilang?"

"Lho... boleh, Pak?"

"Boleh."

Mereka melongo.

"Tapi ada syarat."

Wajah semua langsung tegang.

"Apa, Pak?"

"Kalau sudah lulus..."

"...jangan lupa datang ke rumah ini."

"Untuk apa?"

"Bantuin anak saya belajar masuk kuliah."

Semua langsung tertawa lega.

Sejak malam itu, mereka tidak lagi duduk sembunyi-sembunyi di pinggir pagar.

Pak Hadi begitu nama bapak itu justru meletakkan bangku panjang di teras rumah.

Bahkan setiap Jumat malam, istrinya sering mengantar sepiring pisang goreng.

"Nih, biar nggak cuma kenyang sama deadline."

Lama-kelamaan, teras rumah itu berubah menjadi "ruang belajar" paling ramai.

Anak teknik membantu anak ekonomi mengerjakan Excel.

Anak hukum membantu memahami kontrak.

Anak pendidikan mengajari keponakan Pak Hadi bahasa Inggris.

Sementara Pak Hadi sendiri sering duduk di kursi bambu, tersenyum melihat mereka.

Suatu hari Aldo bertanya,

"Pak, memang nggak keberatan WiFi-nya dipakai banyak orang?"

Pak Hadi menggeleng pelan.

"Dulu saya juga pernah kuliah."

"Lho, kok nggak pernah cerita?"

"Saya nggak sampai lulus."

Mereka terdiam.

"Saya berhenti karena nggak mampu bayar."

Angin sore tiba-tiba terasa lebih pelan.

Pak Hadi melanjutkan,

"Jadi kalau internet ini bisa membantu kalian lulus, anggap saja saya ikut kuliah lagi... lewat kalian."

Tak ada yang berkata-kata.

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada notifikasi nilai merah di SIAKAD.

Dua tahun kemudian, satu per satu penghuni Kos Melati wisuda.

Mereka benar-benar datang kembali ke rumah Pak Hadi.

Bukan untuk meminjam WiFi.

Melainkan membawa undangan, mengenakan toga, dan mengucapkan terima kasih.

Pak Hadi tersenyum lebar sambil memandangi mereka.

"Lihat..."

"WiFi saya akhirnya putus juga."

Aldo bingung.

"Maksudnya, Pak?"

Pak Hadi tertawa.

"Soalnya sekarang kalian sudah terhubung sama masa depan."

Mereka semua ikut tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, tak ada satu pun yang meminta password.

Karena mereka sadar, yang paling setia selama ini bukanlah sinyal internet.

Melainkan kebaikan seseorang yang memilih membantu tanpa pamrih.

Gemurung_21 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post