Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus (9) Sekali Titip Absen

#Tagur 1096/1836

Cerita Anak Kampus: (9) Sekali Titip Absen

"Bro, titip absen, ya."

Kalimat itu sudah seperti salam pagi di kampus.

Rafi bahkan hafal urutannya.

Bangun kesiangan.

Chat teman.

"Bro, kalau dosennya belum datang, absenin dulu."

Balasannya selalu sama.

"Sip."

Beres.

Tak sampai lima detik.

Tinggal menyebut nama saat daftar hadir dipanggil.

Selesai.

Tak ada yang merasa bersalah.

"Ah... semua juga begitu."

Senin pagi, Rafi kembali bangun terlambat.

Jam menunjukkan pukul 07.40.

Sementara kuliah dimulai pukul 07.30.

Ia langsung mengirim pesan.

Rafi: Bro, titip absen ya. Lagi OTW.

Padahal...

Ia masih mengenakan sarung.

Temannya membalas cepat.

Aman.

Rafi kembali rebahan.

"Sepuluh menit lagi."

Yang terjadi justru...

Ia bangun pukul sembilan.

"Kacau..."

Ia buru-buru ke kampus.

Sesampainya di kelas, dosen sudah keluar.

"Ya sudahlah."

Baginya itu hanya satu pertemuan.

Tidak akan berpengaruh.

Seminggu kemudian.

Hal yang sama terulang.

Lalu minggu berikutnya.

Lagi, dan lagi ....

Titip absen berubah menjadi kebiasaan.

Sampai suatu hari dosen baru masuk.

Namanya Pak Surya.

Beliau terkenal santai.

Tidak pernah marah.

Tidak pernah meninggikan suara.

Mahasiswa langsung menyukainya.

"Enak nih dosennya."

Pikir semua orang.

Termasuk Rafi.

Menjelang UTS, Pak Surya berkata pelan.

"Minggu depan tidak ada ujian tertulis."

Seketika kelas bersorak.

"Sebagai gantinya..."

Suasana kembali hening.

"...setiap mahasiswa akan saya panggil satu per satu."

Beberapa mahasiswa saling pandang.

"Silakan menjelaskan materi yang sudah kita pelajari selama satu semester."

Kelas mendadak sunyi.

Tak ada lagi tawa dan canda.

Rafi mulai berkeringat.

Hari yang ditunggu tiba.

Satu demi satu mahasiswa maju.

Ada yang gugup.

Ada yang terbata-bata.

Namun, mereka tetap mampu menjelaskan.

Giliran berikutnya.

"Rafi."

Ia berdiri.

Melangkah ke depan.

Pak Surya tersenyum.

"Coba jelaskan konsep dasar yang kita bahas pada pertemuan kedua."

Rafi membeku.

Pertemuan kedua?

Ia bahkan tidak ingat sedang membahas apa.

Pak Surya memberi pertanyaan lain.

"Lalu materi minggu keempat?"

Diam membisu.

"Bagaimana dengan diskusi minggu keenam?"

Rafi menunduk.

Ruangan begitu hening.

Tak ada satu pun teman yang bisa membantu.

Untuk pertama kalinya, Rafi merasa satu jam kuliah terasa lebih panjang daripada satu malam begadang.

Pak Surya menutup buku.

Lalu berkata pelan,

"Rafi..."

"Iya, Pak."

"Saya tidak marah karena kamu pernah titip absen."

Rafi mengangkat kepala.

"Saya sedih..."

"...karena ternyata yang kamu titip bukan cuma absen."

Seluruh kelas diam.

Pak Surya melanjutkan,

"Kamu juga menitipkan kesempatan belajar."

Kalimat itu seperti menghantam dada Rafi.

Tak ada bentakan.

Tak ada hukuman.

Hanya satu kalimat sederhana.

Namun, rasanya lebih berat daripada tamparan.

Sejak hari itu, Rafi berubah.

Ia mulai datang lebih pagi.

Duduk di barisan depan.

Bahkan menjadi mahasiswa yang paling sering bertanya.

Teman-temannya heran.

"Lah... insaf?"

Rafi tertawa.

"Bukan."

"Terus?"

"Aku cuma nggak mau kehilangan lagi."

"Kehilangan apa?"

"Kesempatan."

Dua tahun kemudian.

Hari wisuda tiba.

Pak Surya berdiri di antara para dosen.

Saat Rafi menyalami beliau, Pak Surya tersenyum.

"Kamu masih sering titip absen?"

Rafi ikut tertawa.

"Nggak lagi, Pak."

"Kenapa?"

Rafi memandang aula wisuda yang dipenuhi toga.

"Dulu saya pikir yang penting nama saya hadir."

"Ternyata..."

"...yang menentukan masa depan bukan nama yang dipanggil saat absen."

"Tapi diri kita yang benar-benar hadir saat belajar."

Pak Surya mengangguk bangga.

Dan untuk pertama kalinya, Rafi benar-benar merasa lulus.

Bukan hanya dari kampus.

Tetapi juga dari kebiasaan menipu dirinya sendiri.

Gemurung_23 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post