Effi susanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cerita Anak Kampus Besuk Pasti Ada Jalan (1)

#Tagur 1086/1826

Cerita Anak Kampus: Besok Pasti Ada Jalan (1)

Ponsel Raka berbunyi pelan.

"Nak, maaf ya. Bulan ini Ibu belum bisa kirim uang seperti biasanya. Dagangan lagi sepi."

Raka membaca pesan itu berkali-kali. Jemarinya berhenti di layar. Ia menarik napas panjang, lalu membalas singkat.

"Nggak apa-apa, Bu. Raka masih ada uang."

Padahal, isi dompetnya tinggal dua lembar uang sepuluh ribuan. Di toples bekalnya hanya tersisa mie instan, beberapa butir telur, dan sebungkus kopi.

Sebagai anak rantau, ia tahu satu hal: jangan pernah membuat orang tua ikut gelisah.

Malam itu, kamar kos terasa lebih sunyi dari biasanya. Teman-temannya sedang nongkrong di kafe dekat kampus. Grup WhatsApp ramai dengan foto kopi susu, kentang goreng, dan tawa mereka.

Raka hanya tersenyum.

"Besok saja kalau lagi ada rezeki," gumamnya.

Keesokan paginya, ia berangkat kuliah lebih awal. Perutnya hanya diisi air putih. Di kampus, dosen mengumumkan bahwa fakultas sedang mencari asisten laboratorium untuk membantu administrasi. Honor memang tidak besar, tetapi cukup untuk tambahan uang makan.

"Siapa yang berminat?" tanya dosen.

Tanpa banyak berpikir, tangan Raka langsung terangkat.

Seminggu kemudian, ia diterima.

Setelah kuliah, ia membantu merapikan data mahasiswa, mencetak berkas, dan sesekali menemani dosen menyiapkan praktikum. Pulang memang lebih sore, tetapi ia merasa jauh lebih tenang.

Gaji pertama yang diterimanya tidak langsung habis.

Ia membeli beras dua kilogram, telur, dan sayuran. Sisanya ia simpan di dalam amplop kecil yang ditempel di dinding kamar kos. Di atas amplop itu ia menulis dengan spidol hitam:

"Dana Jangan Panik."

Setiap kali uangnya mulai menipis, ia melihat tulisan itu sambil tersenyum sendiri.

Suatu sore, teman sekamarnya bertanya, "Rak, kok kamu nggak pernah ngeluh, sih?"

Raka mengangkat bahu.

"Mengeluh boleh. Tapi jangan kelamaan. Soalnya masalah juga nggak bakal selesai kalau cuma dikeluhkan."

Temannya mengangguk pelan.

Hari-hari berikutnya masih penuh tantangan. Tugas kuliah menumpuk. Uang tetap harus dihemat. Kadang ia masih makan mie instan saat akhir bulan. Kadang ia juga rindu masakan ibunya di rumah.

Namun, ada satu kebiasaan yang tak pernah berubah. Setiap sebelum tidur, ia selalu berkata pada dirinya sendiri,

"Tenang... besok pasti ada jalan."

Dan anehnya, jalan itu memang selalu datang.

Kadang berupa pekerjaan kecil. Kadang teman yang menawarkan proyek. Kadang beasiswa yang akhirnya lolos. Kadang hanya sebungkus nasi gratis dari acara kampus yang datang di saat paling dibutuhkan.

Raka akhirnya paham, hidup bukan tentang tidak pernah kesulitan. Hidup adalah percaya bahwa setiap kesulitan selalu membawa kesempatan, asal kita mau terus melangkah.

Karena harapan tidak selalu datang dengan suara yang keras. Sering kali, ia hanya berbisik pelan di dalam hati,

"Besok pasti ada jalan."

Gemurung_14 Juli 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post